banner 728x250

Fransisco Bachtiar Jari, Putra Pertama Kabor yang Menembus TNI AL

Fransisco Bachtiar Jari menjadi Komandan Upacara HUT TNI AL ke-77 pada 10 September 2022 di Mako Lanal Maumere. (Foto: Dok. Keluarga)
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Makawaru da Cunha (*)

FRANSISCO Bachtiar Jari, yang disapa Sisco adalah putra pertama asal Kelurahan Kabor yang meniti karier di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Ia menapaki jalan hidup yang penuh liku.

banner 325x300

Perjalanan hidup Sisco bukan sekadar pengabdian, melainkan inspirasi bagi generasi muda kampung halamannya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menggapai masa depan.

Sejak tahun 1960-an, sejumlah putra putri Kabor telah meniti karier di TNI AD, TNI AU, Polri, dan Brimob. Namun, Sisco menjadi pembuka jalan bagi putra putri Kabor berdinas di TNI AL.

Membuka Jalan Pengabdian

Kehadiran Sisco di TNI AL menjadi tonggak sejarah tersendiri bagi Kabor. Ia adalah yang pertama menembus matra laut dari kampung itu. Langkahnya mematahkan anggapan bahwa jalan menuju institusi tersebut sulit dijangkau putra putri daerah.

Terbukti, kini sejumlah putra putri Kabor telah mengikuti jejaknya di TNI AL. Jejak yang ia torehkan tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan menjadi pintu yang terbuka bagi generasi berikutnya.

Dari sebuah kelurahan kecil di pusat Kota Maumere, lahir kisah tentang tekad dan keberanian. Sisco telah menandai sejarah Kabor sebagai putra pertama yang menembus TNI AL dan mengubah arah mimpi banyak anak kampungnya.

Mengayuh Mimpi dari Maumere ke Dili

Sisco lahir di Kabor C, 31 Oktober 1969, dari pasangan Albertus Meak (almarhum) dan Suzana da Ija (almarhum).

Sekitar November 1989, ia merantau ke Dili mengikuti kakaknya, Stefanus Bailon, yang bekerja di perusahaan pertambangan PT Thiess di Pulau Wetar. Di Dili, Sisco bekerja sebagai kondektur angkutan kota trayek Mercado Lama–Taibesi.

Langkah itu menjadi awal perjalanan hidup yang keras dan penuh liku, jauh dari kampung halaman, demi menyambung harapan dan masa depan.

Dari ABK dan Buruh Kayu di Pulau Terluar

Sekitar awal 1990, Sisco kemudian banting setir menjadi anak buah kapal (ABK) kapal kayu berkapasitas 50 GT, sekaligus buruh pengangkut kayu dari Pulau Wetar ke Dili, Provinsi Timor-Timur waktu itu.

Pelayaran Wetar—Dili ditempuh selama 8 hingga 10 jam, bahkan bisa mencapai sekitar 12 jam, tergantung kondisi cuaca.

Pulau Wetar adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Banda dan berbatasan langsung dengan Timor Leste. Pulau Wetar berada di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

Sisco dan rekan-rekan buruh mengangkut kayu di pulau terpencil, terisolasi, dan tanpa penghuni. Mereka bekerja di bawah terik matahari dan terpaan angin laut tanpa alat berat, hanya mengandalkan tenaga manusia.

Ketika kapal kayu membuang jangkar di tengah laut, para buruh pengangkut kayu turun ke darat menggunakan rakit, kemudian berjalan kaki menuju hutan selama berhari-hari untuk memikul kayu, seperti jati dan berbagai jenis kayu pesisir.

Kayu-kayu itu dipikul dari hutan ke tepi pantai. Karena tanpa dermaga, kayu-kayu tersebut diangkut menggunakan rakit, kemudian dinaikkan ke atas kapal kayu.

Di situlah ia ditempa ombak, panas matahari, angin laut, dan kerja keras tanpa henti. Perjalanan dari kondektur angkutan kota, menjadi ABK kapal kayu, hingga kelak menembus TNI AL, bukanlah kisah yang lahir dalam kenyamanan, melainkan dari peluh dan daya tahan di batas terluar negeri.

Sehari Semalam di Ambang Bahaya

Dalam perjalanan sebagai ABK, kapalnya pernah mengalami black out atau situasi darurat ketika generator di kapal mati total, yang mengakibatkan matinya sistem navigasi dan alat bantu di tengah laut dan hanyut hingga mendekati Los Palos selama satu hari satu malam. Persediaan makanan menipis, yang tersisa hanya mi instan.

Peristiwa itu bukan sekadar gangguan pelayaran, melainkan ujian hidup yang mempertemukannya dengan rasa takut, lapar, dan ketidakpastian di tengah hamparan laut luas tanpa pertolongan selain menunggu dan berusaha memperbaiki generator.

Bertahan dengan Mi Instan

Di atas kapal kayu yang tak lagi bergerak, para awak hanya bisa berharap mesin kembali menyala. Sementara itu, bekal yang dibawa kian menipis.

“Kadang kami hanya makan mi instan, itu pun harus dibagi. Yang penting bisa bertahan hidup,” kenangnya.

Dalam diam dan keheningan, Sisco tak pernah lupa melantunkan doa rosario yang baginya menjadi “senjata” ampuh dalam menghadapi berbagai tantangan dan marabahaya.

“Rosario ini selalu saya kenakan hingga sekarang, baik saat berdinas maupun bepergian,” tutur Sisco.

“Puji Tuhan, generator berhasil diperbaiki, sehingga kami bisa kembali berlayar ke Pelabuhan Santana Dili dengan selamat,” ujarnya.

Momen ini menjadi salah satu pengalaman paling menegangkan sekaligus membentuk ketangguhan hidupnya. Dari peristiwa itu, ia belajar tentang daya tahan, kebersamaan, arti keselamatan, dan nilai-nilai yang kelak menguatkan langkahnya dalam setiap perjalanan hidup berikutnya.

Fransisco Bachtiar Jari bersama keluarga menghadiri wisuda putri sulungnya, Suzana Marthines, sarjana akuntansi lulusan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, tahun 2019. (Foto: Dok. Keluarga)

Titik Balik Perjalanan Hidup

Perubahan hidup itu bermula ketika ia hendak kembali ke rumah seusai turun ke darat. Saat melintas di depan Sional Dili, ia bertemu kakaknya Stefanus Bailon, perhatian keduanya tertuju pada spanduk penerimaan Dikcaba Milsuk TNI AL.

Melihat spanduk tersebut, ia memberanikan diri untuk menanyakan persyaratan pendaftaran sebagai calon prajurit TNI AL. Setelah mencatat seluruh ketentuan yang diperlukan, ia bersama Stefanus Bailon kembali ke rumah di Kai Koli, guna mempersiapkan berkas-berkas dan kemudian mendaftarkan diri di tempat penerimaan pendaftaran.

Momen singkat di tepi jalan itu menjadi titik balik perjalanan hidupnya. Sebuah spanduk sederhana, namun menghadirkan pilihan besar. Ia tetap menjalani hidup sebagai buruh kapal atau mencoba peruntungan menjadi prajurit matra laut.

Pilihan dan tekadnya untuk menjadi prajurit TNI AL menuntutnya mempersiapkan seluruh persyaratan serta kesiapan diri guna menghadapi berbagai tahapan tes.

Atas kemauan dan tekatnya yang bulat serta atas pilihannya, ia pun mendaftar Dikcaba Milsuk Angkatan X Gelombang 1 di Dili, Timor-Timur, pada 1990. Dan pelaksanaan tes pada Juni 1990.

Doa Novena Menguatkan Langkah

Sebelum mengikuti tes Dikcaba Milsuk, Sisco senantiasa melantunkan doa novena melalui perantaraan Bunda Maria sebagai bentuk ikhtiar dan penguatan batin.

Doanya terkabul, dari sekitar 250 peserta, hanya sepuluh orang, termasuk Sisco, yang lolos seleksi tingkat Panitia Daerah. Mereka kemudian melanjutkan tes Panitia Pusat (Panpus) di Malang, Jawa Timur, menjalani Sidang Penentuan Akhir (Pantukhir) untuk menentukan siapa yang layak mengenakan seragam TNI AL. Sisco dinyatakan lulus kemudian melanjutkan Pendidikan Dasar di Pusdikdasmil Juanda selama 3 bulan, dan melanjutkan Pendidikan Kejuruan di Kodiklatal Surabaya selama 6 bulan serta dilantik menjadi prajurit matra laut sesuai Skep Kasal pada 8 Agustus 1991.

Perjalanan dari buruh pengangkut kayu hingga berdiri di barisan calon prajurit bukanlah langkah yang mudah. Namun tekadnya telah bulat.

“Saya ingin membuka jalan bagi anak-anak Kabor agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengabdi di TNI AL,” ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar harapan pribadi, melainkan janji pada kampung halaman bahwa keberhasilannya kelak harus menjadi pintu yang terbuka bagi generasi berikutnyA.

Koleksi foto keluarga Fransisco Bachtiar Jari. (Foto: Dok. Keluarga)

Menapaki Tangga Pendidikan Militer

Sisco mengikuti seleksi tingkat Panitia Daerah di Dili kemudian seleksi tingkat Panitia Pusat di Malang bersama ribuan peserta tes seluruh Indonesia hingga dinyatakan lulus sekitar 700-an orang termasuk Sisco.

Adapun pendidikan pendikan Militer yang diikuti Sisco antara lain Dikcaba Milsuk X/1 1991 di Surabaya, Susbintalkes pada 13–25 Juli 1998 di Pusterad Gadobangkong, Cimahi, Jawa Barat, serta Diktukpakat I TA 2021 di Surabaya.

Tugas pertama setelah dilantik menjadi Sersan Dua adalah di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada 1992–2003. Selama di Seskoal, ia sempat BKO di Lanal Cirebon selama empat bulan tahun 2003.

Tugas di Wilayah Konflik: Timor Timur

Ia dua kali bertugas ke wilayah konflik di Timor Timur pada tahun 1998–1999, sebelum dan sesudah referendum atau jejak pendapat di Timor Timur.

Ia tergabung dalam Satgas Bintal 1998. Setahun kemudian, pada 1999, ia kembali bertugas sebagai bagian dari Satgas evakuasi pengungsi.

Penugasan itu menempatkannya di tengah situasi yang tidak mudah ketika ketegangan politik dan sosial memuncak, dan pilihan-pilihan besar sedang ditentukan di bumi Timor Lorosae.

Pendekatan Hati ke Hati

“Satgas Bintal saat itu kami ditugaskan dari Mabes TNI ke Timor-Timur untuk melakukan pendekatan hati ke hati, membawa misi Kristen mengajak masyarakat agar tetap bersama Indonesia, sekaligus menjajaki berapa persen yang pro Indonesia dan yang pro kemerdekaan,” ujarnya.

Tugas itu bukan sekadar operasi formal, melainkan perjumpaan langsung dengan masyarakat di tengah situasi penuh ketidakpastian. Ia dan rekan-rekannya hadir untuk berbicara, mendengar, dan merasakan kegelisahan warga pada masa yang menentukan.

Operasi Kemanusiaan

Setelah itu, ia kembali ditugaskan dalam operasi kemanusiaan.

“Kami masuk ke pelosok-pelosok Timor Timur untuk mengevakuasi pengungsi yang pro Indonesia. Mereka kami bawa menggunakan KRI dari Pelabuhan Dili menuju Kupang, NTT,” kata Sisco.

Dari pendekatan hati ke hati hingga mengangkut pengungsi dengan kapal perang, ia menjalani dua sisi penugasan: misi persuasif dan operasi kemanusiaan. Di tengah konflik dan perpecahan, ia tetap berdiri sebagai prajurit yang mengemban tugas negara sekaligus menyaksikan langsung getirnya sejarah yang sedang berlangsung.

Rangkaian pendidikan dan penugasan itu menjadi fondasi ketekunan serta disiplin yang membentuk karier militernya.

Mengabdi di Lanal Maumere Sejak 2003

Atas permohonan pindah tugas yang diajukannya sendiri, sejak 2003 hingga kini Sisco berdinas di Lanal Maumere.

Di Lanal Maumere ia menjabat sebagai Kaurang Satma, Anggota Detasemen Polisi Militer Angkatan Laut, Anggota Unit Intel, Komandan Posal Ende, Komandan Posal Mbay, Komandan Posal Lembata, dan kini menjabat sebagai Pjs Dansatma Lanal Maumere.

Pengabdian yang panjang itu mencerminkan kesetiaannya pada tugas dan institusi. Dari satu penugasan ke penugasan lain, ia tetap berdiri di garis pengabdian, menjalani peran demi peran dengan tanggung jawab yang sama menjaga laut dan mengabdi kepada negeri.

Bagi Sisco, karier militer bukan sekadar jabatan, melainkan perjalanan panjang yang ditempuh dengan disiplin, kesabaran, dan kesetiaan. Sebuah jalan hidup yang ia pilih sejak melihat spanduk penerimaan di Dili, dan yang terus ia jalani hingga hari ini.

Menikah dan Membangun Keluarga

Ia menikah dengan Maria SY Gero (52) di Gereja St. Robertus Bellarminus, Paroki Cililitan, Jakarta Timur, pada 5 Mei 1995.

Perkawinannya dikaruniai tiga anak, yakni Suzana Marthines (30), Paulus Albertho (24), dan Petrus Evangelis Fransisco Conterius (19).

Suzana Marthines adalah sarjana akuntansi lulusan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, kini bekerja di Bank NTT Cabang Ende (Maurole). Paulus Albertho adalah anak berkebutuhan khusus (ABK) dan tinggal di rumah. Sementara itu, Petrus Evangelis Fransisco Conterius merupakan siswa SMA Frateran Maumere kelas XI.

Sisco dan keluarga kecilnya hidup bahagia dan harmonis di rumah pribadinya di Nangahure Bukit Blok B, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT.

Suka Duka Pengabdian

Di balik kehidupan keluarga yang hangat, ada cerita tentang jarak dan waktu yang kerap memisahkan. Sisco mengisahkan suka duka selama berdinas di TNI AL yang penuh tantangan, baik dalam pendidikan maupun penugasan. Setiap tugas pasti berat, namun tujuan akhirnya adalah menjadikannya sebagai prajurit yang siap saat ditugaskan di mana pun.

Pengabdian itu menuntut konsekuensi: meninggalkan rumah dalam waktu yang tidak sebentar.

“Saya sering meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang lama,” ungkap Sisco.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan beban batin seorang suami dan ayah. Di satu sisi, ia mengemban tugas negara di sisi lain, ia harus merelakan momen-momen bersama keluarga. Namun, bagi Sisco, itulah harga sebuah pengabdian, menjaga laut dan negeri, sembari berharap keluarganya tetap menjadi pelabuhan yang setia menanti kepulangannya.

Fransisco Bachtiar Jari saat memimpin laga Perse Ende versus Perss Soe di perempat final ETMC Malaka 2019. (Foto: Dok. Keluarga)

Mengabdi di Luar Seragam Militer

Di luar dinas militer, Sisco dikenal sebagai wasit sepak bola senior di Kabupaten Sikka dan NTT yang telah mengabdikan diri sejak 2005. Kecintaannya pada sepak bola sejak masa kanak-kanak di Kelurahan Kabor mendorongnya untuk terlibat aktif sebagai pengadil lapangan dalam berbagai turnamen, baik tingkat lokal maupun regional.

Ia mengawali kiprahnya dari Turnamen Ledalero Cup dan Danlanal Cup. Dari lapangan ke lapangan, namanya mulai dikenal sebagai wasit yang tegas dan konsisten.

Pada 2008, Sisco dipercaya memimpin pertandingan Piala Gubernur NTT di Kupang. Namanya pun kian dikenal dan rutin masuk dalam daftar wasit pada berbagai turnamen dan kompetisi bergengsi di NTT, termasuk Turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC), Piala Gubernur NTT, Piala Soeratin, Pekan Olahraga Daerah Flores dan Lembata (PORDAFTA) di Maumere tahun 2009, Piala Bupati Ende, Turnamen Dandim Cup Ende, Ema Gadi Djou Memorial Cup Ende, Turnamen Ika Wanted di Lembata, Turnamen di Boawae, Nagekeo, Turnamen di Terong Adonara.

Ia tercatat menjadi wasit Piala Gubernur 2008 di Kupang, ETMC 2010 di Kupang, Piala Gubernur 2011 di Kupang, ETMC Sumba Barat Daya (2011), ETMC Manggarai Barat (2013), ETMC Maumere (2015), ETMC Ende (2017), hingga ETMC Malaka (2019). Selain itu, ia juga dipercaya memimpin pertandingan Soeratin Cup di Ende pada 2019.

Di tingkat lokal, Sisco aktif memimpin berbagai turnamen di Maumere dan Ende seperti Ema Gadi Djou Memorial Cup dan Piala Bupati Ende serta Wanted Cup di Lembata. Hingga kini, di usia 56 tahun, ia masih aktif menjadi wasit dalam berbagai turnamen lokal di Kabupaten Sikka.

Mendorong Regenerasi Wasit

Di luar lapangan, ia juga berkontribusi dalam organisasi. Sisco menjabat Ketua Komisi Wasit Askab PSSI Sikka periode 2021–2025, dan kini mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Fair Play Askab PSSI Sikka periode 2025–2029.

Motivasi Sisco menjadi wasit berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya regenerasi wasit di Sikka setelah era Idris Boli dan Thomas Aquino. Ia terdorong untuk mengabdikan diri sekaligus membina pemain dalam memahami aturan permainan sepak bola.

“Motivasi utamanya menjadi wasit karena melihat regenerasi wasit Sikka setelah era Idris Boli, Thomas Aquino, dan lainnya pensiun. Maka saya tergerak untuk mengabdikan diri sebagai wasit sepak bola di Sikka, sekaligus sebagai bentuk pembinaan bagi pemain dalam penerapan aturan permainan dan pertandingan,” ungkap pengagum Diego Maradona dan Ruly Nere ini.

Sisco mengantongi lisensi C3 setelah mengikuti kursus saat ETMC di Kalabahi tahun 2006, kemudian, ia mengantongi lisensi C2 sebelum ETMC di Bajawa tahun 2009.

Sejak itu, ia terus mengasah kapasitas dengan mengikuti berbagai ajang dan pelatihan. Bagi Sisco, lapangan hijau adalah ruang pengabdian lain, tempat ia menjaga sportivitas, menegakkan aturan, dan memastikan generasi muda belajar tentang disiplin, kejujuran, dan fair play.

Semifinal Penuh Tensi di Stadion Oepoi

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat ia memimpin semifinal ETMC 2010 di Stadion Oepoi, Kupang, Persematim Manggarai Timur kontra Perseftim Larantuka, 1 Oktober 2010.

Laga berlangsung sengit dan bertensi tinggi. Dalam satu momen krusial, terjadi pelanggaran keras terhadap striker Perseftim, Kholid Mawardi. Sisco menganjar kartu kuning kepada pemain Persematim. Namun, terjadi kesalahan pencatatan oleh wasit cadangan atau ofisial keempat justru menuliskan nama Kholid Mawardi sebagai penerima kartu kuning.

Kesalahan tersebut memicu polemik karena beredar informasi bahwa Kholid Mawardi tidak dapat tampil di final akibat akumulasi kartu. Pihak Perseftim pun mengajukan protes.

Catatan yang Menjadi Penentu

Rapat klarifikasi digelar di Hotel Pelangi Kupang. Dalam situasi tersebut, Sisco memiliki catatan kartu pertandingan yang belum dilepas, sehingga menjadi bukti penting.

“Untungnya saya masih menyimpan catatan kartu yang belum saya lepas, sehingga bisa menjadi acuan untuk menganulir laporan ofisial keempat. Berdasarkan keyakinan atas fakta yang terjadi, saya sampai berani bersumpah,” ujar pengagum Pierluigi Collina, wasit internasional terbaik asal Italia ini.

Keputusan akhirnya menyatakan Kholid Mawardi tidak menerima kartu kuning dan tetap dapat bermain di final. Namun, insiden itu membuat Sisco tidak ditugaskan memimpin partai puncak.

“Ini merupakan pengalaman paling berkesan bagi saya,” kata pencinta Selecao das Quinas julukan Timnas Portugal, Read Madrid dan Persipura Jayapura.

Ia juga mengakui faktor usia menjadi tantangan untuk melanjutkan lisensi ke tingkat lebih tinggi. Meski demikian, ia menilai penampilan terbaiknya terjadi pada ETMC 2010, yang membuatnya tetap dipercaya memimpin berbagai pertandingan penting setelahnya.

Di tengah tekanan dan risiko, ia memilih berdiri pada keyakinan dan fakta. Bagi Sisco, menjadi wasit bukan sekadar meniup peluit, melainkan menjaga keadilan bahkan ketika konsekuensinya adalah kehilangan kesempatan memimpin laga final.

Laga Tegang di Gelora Samador

Pengalaman terberat terjadi saat memimpin laga penyisihan grup ETMC 2015 di Gelora Samador Maumere, 31 Oktober 2015, PSN Ngada kontra Persamba Manggarai Barat.

Laga berlangsung tegang sejak awal. Persamba membuka keunggulan lebih dulu, namun gol tersebut diprotes pihak PSN Ngada yang menilai terjadi offside. Sisco tetap mengesahkan gol karena tidak ada sinyal pelanggaran dari asisten wasit.

Keputusan itu memicu gelombang protes. Situasi semakin panas ketika ia memberikan kartu kuning kepada salah satu pemain PSN Ngada.

Ketika Setiap Keputusan Dipersoalkan

Meski laga berakhir imbang 1-1 dan kedua tim lolos ke babak 16 besar, ketegangan tak mereda. Setiap keputusan wasit dipersoalkan hingga memicu kericuhan, bahkan terjadi aksi dorong terhadap wasit di akhir pertandingan.

“Situasi saat itu sangat sulit dikendalikan, karena setiap keputusan wasit dianggap tidak benar,” ujarnya.

Bagi Sisco, momen tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berat dalam perjalanan panjangnya sebagai wasit. Di tengah tekanan emosi pemain dan suporter, ia tetap berdiri di garisnya, memegang teguh keputusan yang telah diambil berdasarkan kewenangannya di lapangan.

Di situlah ia kembali diuji bukan hanya soal memahami aturan permainan, tetapi tentang keteguhan menjaga otoritas dan ketenangan di tengah situasi yang nyaris tak terkendali.

Selepas berdinas atau saat memiliki waktu senggang di rumah, Sisco selalu menyempatkan diri berkumpul bersama keluarga untuk menyaksikan siaran langsung pertandingan sepak bola di televisi, seperti Serie A Italia, Premier League, La Liga Spanyol, Liga Champions, Piala Dunia, hingga Liga Indonesia dan kompetisi lainnya.

Menuju Purna Tugas sebagai Perwira

Sisco merencanakan pensiun dari dinas TNI AL pada 1 November 2027 mendatang dalam usia 58 tahun dengan menyandang perwira.

Menjelang masa purna tugas itu, sejumlah tawaran datang, termasuk untuk terjun ke dunia politik. Namun, hingga kini ia belum memberikan jawaban. Ia ingin menikmati masa pensiun bersama keluarga, sembari terus mengurus sepak bola, demi kemajuan sepak bola Sikka.

Dari Laut Menuju Pengabdian yang Lebih Luas

Dari kerasnya kehidupan sebagai ABK hingga menjadi perwira TNI AL, perjalanan Sisco adalah bukti ketekunan dan harapan.

Ia membuktikan bahwa dari laut, dari kerja keras, lahir pengabdian.

Langkah hidupnya berawal dari geladak kapal kayu, ditempa ombak dan panas matahari, lalu berlanjut dalam seragam militer dan di lapangan hijau sebagai wasit. Kini, di ujung masa dinasnya, ia memilih tetap dekat dengan keluarga dan dunia sepak bola ruang pengabdian yang lain.

Selamat atas dedikasi dan pengabdianmu, Sisco. Jalesveva Jayamahe. Justru di Laut Kita Jaya. Tetap Tegakkan Fair Play.

(*) Jurnalis dan Putra Kabor

RIWAYAT HIDUP LENGKAP

Nama: Fransisco Bachtiar Jari

Lahir: Kabor C, 31 Oktober 1969

Orang Tua: Albertus Meak dan Suzana da Ija

Istri: Maria SY Gero

Anak: Suzana Marthines, Paulus Albertho, Petrus Evangelis Fransisco Conterius

PENDIDIKAN UMUM:

SDK Talibura (1983)

SMPK Supra Talibura (1986)

SMA Negeri 1 Maumere (1989)

PENDIDIKAN MILITER:

Dikcaba Milsuk TNI AL X/I 1991 di Surabaya

Diktukpakat I TA 2021 di Surabaya

KARIR TNI AL

Seskoal Cipulir (1991–2003)

Lanal Maumere (2003–Sekarang)

RIWAYAT PANGKAT

Serda (1991)

Sertu (1996)

Serka (2000)

Serma (2005)

Pelda (2010)

Peltu (2014)

Letda (2021)

Lettu (2025)

TANDA JASA

Satya Lencana Seroja (1998)

Satya Lencana Kesetiaan VIII Tahun (2001)

Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun (2011)

Satya Lencana Kebaktian Sosial (2019)

Satya Lencana Wira Nusa (2022)

KARIR WASIT

Piala Gubernur di Kupang (2008)

PORDAFTA di Maumere (2009)

Wasit ETMC di Kupang (2010)

Wasit Piala Gubernur di Kupang (2011)

Wasit ETMC di Sumba Barat Daya (2011)

Wasit ETMC di Manggarai Barat (2013)

Wasit ETMC di Maumere (2015)

Wasit ETMC di Ende (2017)

Wasit ETMC di Malaka (2019)

Wasit Soeratin di Ende (2019)

Lisensi C3 (2006), C2 (2009)

Ketua Komisi Wasit Askab PSSI Sikka (2021–2025)

Ketua Komisi Fair Play Askab PSSI Sikka (2025–2029)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *