Oleh: Makawaru da Cunha (*)
MALAM di Kota Maumere pada era 1970-an tak pernah benar-benar sunyi. Dari panggung-panggung hiburan sederhana di sudut kota, musik mengalun memecah keheningan. Denting bass guitar, petikan gitar listrik, dan sentuhan keyboard menghidupkan suasana malam warga kota pesisir di Flores itu.
Di antara lampu panggung yang temaram dan pengeras suara yang kadang berderak, seorang pemuda berdiri dengan bass guitar di tangannya. Jemarinya memetik senar, menghadirkan irama yang membuat penonton bergoyang. Dialah Frem Sali.
Sejak masa itu, Frem Sali menjadi bagian dari perjalanan musik Kota Maumere. Warga yang hidup pada era tersebut hampir pasti mengenalnya. Ia dikenal sebagai musisi dengan spesialis bass guitar dan keyboard, dan hingga kini tetap aktif bermusik.
“Waktu itu saya main di hampir semua grup band yang ada di Maumere,” ujar Frem mengenang masa-masa awal panggungnya.
Musik bagi Frem bukan sekadar hiburan. Ia adalah perjalanan hidup yang tumbuh dari keluarga, berkembang di panggung-panggung kota, dan tetap hidup dalam ingatan para penikmat musik Maumere.
Keluarga Musisi
Frem Sali lahir di Boawae, Kabupaten Ngada 17 Juni 1960, sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara pasangan Yan Sali dan Yudith Parera (alm).
Frem Sali tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan dunia pendidikan sekaligus musik. Bersama ibu dan saudara-saudaranya, ia mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai guru di Boawae. Sang ayah juga dikenal aktif sebagai Pembina Pramuka di lingkungan sekolah.
Selain mengabdi sebagai guru, ayahnya juga pernah dipercaya menjabat Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Pemerintah Daerah Sikka pada era 1970-an sebelum pensiun.
Bakat musiknya tumbuh dari keluarga yang akrab dengan alat musik. Ayahnya dikenal piawai memainkan viol dan ukulele. Dari rumah sederhana itulah kecintaan pada musik mulai tumbuh.
Di antara saudara-saudaranya, tiga orang menekuni dunia musik. Piter Sali (alm) memainkan lead guitar, Frem Sali dikenal sebagai pemain bass guitar, dan Marianus Sali (alm) memainkan keyboard.
Perjalanan musik Frem dimulai ketika ia masih duduk di bangku STM Widya Karya Maumere. Tahun 1977 menjadi awal langkahnya ketika ia bergabung dengan Retek Band (Remaja Teknik).
Sejak itu, panggung demi panggung menjadi bagian dari hidupnya. Ia kemudian bergabung dengan sejumlah grup band di Maumere, antara lain Flora Jaya Band (1979), Gemini Band (1983), KNPI Band/AMPI Kabor Band (1984–1988), Mesran Band (1990–1996), Praja Nada Band milik Pemda Sikka (1990–1997) yang dibentuk atas ide Bupati Sikka Drs A.M. Conterius (alm), serta D’BRIMA Band (1997–2004).
Pada 1997, Frem beralih dari bass guitar ke lead guitar ketika bermain di D’BRIMA Band.
Perjalanan musikalnya kemudian kembali berubah. Sejak 2011, ia lebih memilih fokus memainkan keyboard, yang kemudian menjadi identitas musik barunya.
Pilihan itu tidak lepas dari pengalamannya pada awal 1980-an, ketika di Maumere hanya Gemini Band yang memiliki keyboard.
“Saya akhirnya memiliki gitar sendiri tahun 1990-an, dan keyboard pada 2012 untuk berlatih di rumah,” kata Frem.
Panggung Panggung Maumere
Bagi Frem, musik bukan sekadar dimainkan. Ia menjadi bagian dari hiburan masyarakat Maumere.
Melalui denting bass guitar dan sentuhan keyboard, ia mengiringi berbagai acara hiburan warga—dari panggung musik hingga pertunjukan yang menghadirkan penyanyi dari luar daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Frem lebih sering tampil memainkan keyboard bersama para guru di Maumere dalam kelompok Cantaria Voice, serta tampil sebagai pemain organ tunggal bersama Farrel Voice.
“Saya kadang keluar main musik dengan vokalisnya,” ujarnya.

Menyimpan Banyak Kenangan
Pada 1983, bersama Gemini Band, Frem mengiringi penyanyi Inggrid Fernandez dari Kupang dalam konser di Golden Theater Maumere. Formasi saat itu terdiri dari Piter Sali pada lead guitar, Frem Sali pada bass guitar, Emil Diaz pada keyboard, serta Lely da Silva (alm) sebagai vokalis pendukung.
Setahun kemudian, 1984, Gemini Band kembali tampil mengiringi penyanyi asal Surabaya Ayu Wedayanti di Lapangan Basket Toko Kuda Mas Maumere. Formasi saat itu adalah Daniel Tanjung pada lead guitar, Frem Sali pada bass guitar, Emil Diaz pada keyboard, dan Videlis Laban (alm) pada drum.
Pada 1988, Frem tampil di Larantuka dan Waiwerang dalam rangka promosi Rokok Gudang Garam Surya bersama sejumlah penyanyi dari Pulau Jawa seperti Toar Tangkau, Yenny Lopulalan, dan Sofie Djasmin, serta vokalis pendukung Lely da Silva, Dua Ota da Silva, dan Frencis da Silva.
Pengalaman panggung lain datang ketika ia bersama Praja Nada Band mengiringi kampanye Golkar di Maumere pada 1990-an, mendampingi sejumlah penyanyi dari Jakarta seperti Yopi Latul, Utha Likumahua, dan KLa Project.
Formasi band saat itu terdiri dari Piter Sali pada lead guitar, Frem Sali pada bass guitar, Marianus Sali (alm) pada keyboard, dan Ucok Laban pada drum.
Masuk Dapur Rekaman
Pada 1982 lahir BLITZ Band yang kemudian masuk dapur rekaman untuk merekam lagu-lagu daerah Kabupaten Sikka dalam pita kaset untuk Volume 1 di PT Mekar Jaya Record. Formasi awal band ini diperkuat Piter Sali pada lead guitar, Emil Diaz pada keyboard, serta vokalis Lely da Silva bersama sejumlah personel lainnya.
Setahun kemudian, pada 1983, Frem bergabung sebagai pemain bass. Kehadirannya melengkapi formasi band yang tampil sebagai full band. Sejak saat itu, BLITZ Band semakin aktif tampil di berbagai panggung hiburan di Maumere dan sekitarnya. Seiring perkembangan teknologi rekaman, karya-karya mereka kemudian juga diproduksi dalam kepingan Compact Disc (CD).
Dalam preferensi musiknya, Frem dikenal sebagai penggemar God Bless, band rock legendaris Indonesia. Ia memainkan berbagai genre musik, mulai dari pop, rock, dangdut, hingga reggae.
Musik, Keluarga, dan Kesetiaan
Di luar panggung musik, Frem menjalani kehidupan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Ia memulai karier sebagai tenaga honor di Unit Perawatan Rutin (UPR) pada proyek pembangunan jalan dan jembatan Maurole–Kota Baru pada 1998.
Pada 2006, ia diangkat menjadi ASN di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Maumere hingga pensiun pada 2018.
Dalam kehidupan keluarga, Frem menikah dengan Susana Emilya Koro pada 1994. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai empat anak. Sabina Eka Putri Sali (40) mengikuti jejak ayahnya bekerja di Kementerian PUPR Maumere, Theodorus Aprilus Putra Sali (37) tinggal dan bekerja di Jakarta, Khatarina Kartini Tri Putri Sali (32) ibu rumah tangga, dan Yeremias Paskalis Putra Sali (30) bekerja sebagai soundman di Maumere
Bakat musik juga mengalir kepada anak-anaknya. Khatarina Kartini Tri Putri Sali memainkan bass guitar, sementara Yeremias menekuni dunia sound system.
Meski telah pensiun dari pekerjaan formal, Frem tidak pernah benar-benar meninggalkan musik.
Bagi warga Maumere, ia bukan sekadar pemain band. Frem Sali adalah musisi yang selama puluhan tahun ikut menghidupkan kota melalui nada dan irama.
Dari denting bass guitar hingga sentuhan keyboard, musiknya menjadi hiburan sekaligus kenangan yang terus hidup di hati masyarakat Maumere hingga kini.
(*) Jurnalis dan Penikmat Musik
RIWAYAT SINGKAT FREM SALI
Nama: Frem Sali
Tempat/tanggal lahir: Boawae, 17 Juni 1960
Orang tua: Yan Sali – Yudith Parera (alm)
PENDIDIKAN: STM Widya Karya Maumere
PERJALANAN MUSIK
- Retek Band (Remaja Teknik) – 1977
- Flora Jaya Band – 1979
- Gemini Band – 1983
- KNPI Band / AMPI Kabor Band – 1984–1988
- Mesran Band – 1990–1996
- Praja Nada Band Pemda Sikka – 1990–1997
- D’BRIMA Band – 1997–2004
ALAT MUSIK:
Bass Guitar, Lead Guitar, Keyboard
KARIER
- Tenaga honor proyek jalan Maurole–Kota Baru (UPR) – 1998
- ASN Kementerian PUPR Maumere – 2006–2018
KELUARGA
Menikah dengan Susana Emilya Koro (1994)
Dikaruniai empat anak


















