Oleh: Makawaru da Cunha
CITRA PAPUA.COM—JAYAPURA—Di balik nama besar Evan Soumilena, ada sosok ayah yang bekerja dalam diam. Adi Soumilena bukan hanya ayah, tapi juga pembina futsal Papua yang menekuni pembinaan atlet muda, termasuk putranya sendiri. Dari lapangan sederhana di Jayapura hingga panggung nasional, tangan sunyi Adi membentuk karier Evan.
Dedikasi Adi terlihat sejak 2009, ketika ia mulai membina Mutiara Hitam FC, klub yang melahirkan banyak talenta Papua. Bersama Daud Arim, Ketua Asosiasi Futsal Provinsi Papua, sekaligus Pelatih Tim Futsal Papua di PON 2021, Adi mendampingi Evan dan anak-anak muda lain, menyiapkan mereka menembus klub nasional dan timnas.

Awal Mengurus Futsal
Adi mulai serius ketika Mutiara Hitam FC pulang dari Pro Futsal League Indonesia di Jakarta dengan prestasi juara tiga.
“Saya mulai mengurus futsal tahun 2009 ketika tim futsal Mutiara Hitam FC pulang dari Pro Futsal League Indonesia di Jakarta dan keluar sebagai juara tiga. Setelah mereka kembali ke Jayapura, saya bergabung dengan klub itu,” kata Adi.
Sejak itu, ia ikut merekrut anak-anak muda dan membina mereka secara terstruktur bersama Daud Arim.
“Kami langsung mengurus tim Mutiara Hitam FC dan merekrut anak-anak muda yang bisa main futsal untuk kami bina lebih baik ke depan.”

Membina Evan dan Tim Papua
Sejak SD, Evan sudah menunjukkan bakat. Adi ikut membantu Daud Arim membina Evan, memastikan fondasi teknik dan mental terbentuk sejak awal.
“Evan sudah main sepakbola sejak SD, posisi striker. Pulang sekolah kami suruh tidur siang, tapi dia malah lari main bola di lapangan atau jalan. Setelah tamat SMA baru serius main futsal. Saya ikut membantu Daud Arim membina Evan dari kecil hingga sekarang.”
Adi juga mendampingi Daud Arim bersama Tim Futsal Papua di berbagai Pra-PON di Makassar, untuk PON Riau 2012, Pra PON di Ternate untuk PON 2016 Jawa Barat, dan Pra PON 2024 untuk Aceh-Sumut.
“Kami selalu mendampingi Daud Arim di setiap Pra-PON. Walau tim Papua gagal, pengalaman itu penting untuk pembinaan pemain muda,” ujarnya.

Melahirkan Talenta Papua
Mutiara Hitam FC makin dikenal di Jayapura dan Papua. Adi menggelar turnamen seperti Pemancar Cup dan Mutiara Hitam Cup, lahirkan pemain-pemain berbakat.
“Kami buat turnamen besar diikuti 32 tim. Dari situ lahir talenta-talenta muda di Kota Jayapura dan Tanah Papua.”
Beberapa lulusan Mutiara Hitam FC kini menembus kancah nasional: Ardiansyah Runtuboi, Brian Iek, Piter Junior, Muhammad Najib, Dede Wibowo, Marsel Ireuw, dan Evan sendiri.
Filosofi Futsal
Menurut Adi, futsal menuntut daya jelajah tinggi, kecepatan, kekuatan mental, dan skill teknis.
“Futsal sama dengan basket, bergerak terus. Main dua kali 20 menit, bola mati waktu ikut mati. Dibutuhkan skill tinggi, speed and power, juga mental.”
Keluarga dan Kehidupan Pribadi
Adi lahir di Jayapura, 11 September 1970, anak pasangan Seblum Soumilena dan Asmani (darah Betawi). Lulusan SMEA Negeri Jayapura, Kotaraja, bekerja sebagai kontraktor. Istrinya, Patricia Bettay, PNS Pemkot Jayapura. Evan, anak kedua dari enam bersaudara, kini memperkuat Black Steel FC Papua dan Timnas Futsal Indonesia.
“Prospek di timnas terbuka lebar, tapi sekarang Evan cedera lutut dan harus dioperasi,” ujar Adi.

Tangan yang Bekerja dalam Diam
Adi tetap fokus membina generasi muda Papua agar menembus klub nasional dan timnas. Di balik sorotan lampu pertandingan dan gemuruh suporter, ia bekerja di belakang layar, membina dan mengarahkan.
“Kalau pengurus masih berkehendak atau orang-orang pendiri futsal masih memberi kepercayaan, saya siap,” tegas Adi. **


















