Oleh: Makawaru da Cunha
CITRA PAPUA.COM—JAYAPURA—Anak-anak muda Papua kini makin mantap memilih jalur Aparatur Sipil Negara (ASN), yang memadukan ketekunan akademik, disiplin hidup, dan kecintaan pada tanah kelahiran.
Marthinus Ferdy Bonny Ayemi, SE., M.Ec.Dev., adalah salah satunya. Bonny panggilan akrabnya menapaki kariernya dengan komitmen dan konsisten. Bonny mengabdi tanpa banyak bicara dan loyalitas pada Papua.
Lelaki kelahiran Jayapura, 16 Pebruari 1983 adalah anak sulung dari 7 bersaudara pasangan Dance Ayemi dan Almarhumah Ritha Bonai.
Ayahnya seorang pensiunan ASN Dinas Perhubungan Provinsi Papua, ia belajar disiplin dan keteguhan. Dari ibunya, seorang perawat yang mengabdikan hidup di RSUD Dok II Jayapura ia belajar kelembutan, kesabaran, dan kekuatan hati. Dan dari adik- adiknya, ia belajar tanggungjawab.
“Kalau bukan kita yang bangun Papua, siapa lagi?” katanya mengulang petuah sang ayah.

Marthinus Ferdy Bonny Ayemi, didampingi sang ayah Dance Ayemi, usai wisuda S 2 di UGM Yogyakarta, 19 Juli 2018. (Foto: Dok/Pribadi)
Beasiswa Supersemar
Masa remajanya ia habiskan di SMA Negeri 2 Jayapura di Dok 9 Atas. Bonny percaya bahwa satu-satunya jalan keluar dari batas adalah pendidikan.
Ketika kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uncen Jayapura, Bonny mendapat dukungan pembiayaan dari orang tuanya. Tapi hingga pada semester ketiga, prestasinya membawanya meraih Beasiswa Supersemar dari Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Uncen.
“Saya lulus dengan IPK 3,10, sangat memuaskan,” tutur Bonny di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Papua di Kotaraja Luar, Jayapura, Rabu (26/11/2025).

Marthinus Ferdy Bonny Ayemi, saat berkarier di Dinas Perhubungan Provinsi Papua. (Foto: Dok/Pribadi)
Naik Turun Kapal
Sejak 2003, ia bekerja sebagai tenaga honor di Dinas Perhubungan Papua. Ia naik turun kapal-kapal milik Pemprov Papua mulai dari KM Papua I hingga Papua V, KM Masyirei, KM Papua Baru.
Ia bahkan menempuh pendidikan kepelautan di Barombong, Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2007.
Tahun 2008, ia mencoba berkarier di dunia perbankan tepatnya di Bank Papua.
Ia lolos sebagai peserta Pendidikan Calon Staf Muda (PCSM) Angkatan V, ia bekerja selama setahun. Namun ia jatuh sakit.
Dan ia kembali ke jalan pengabdian awalnya. Pada 2010, ia resmi menjadi ASN. Ia ditempatkan di Bidang Udara Staf Teknik Bandar Udara di Dinas Perhubungan Papua.
Untuk meningkatkan keterampilan ia mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Penerbangan di Kayu Batu, Jayapura, bahkan pernah menjadi peserta terbaik.

Marthinus Ferdy Bonny Ayemi dan rekan-rekan berpose bersama, usai kegiatan tentang akuntabilitas pemerintah daerah di Inspektorat Yogyakarta. (Foto: Dok/Pribadi)
Kuliah di Kota Gudeg
Pada 2016, sebagai ASN Tugas Belajar dari Pemprov Papua ia berangkat ke Yogyakarta untuk menempuh kuliah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Magister Ekonomi Pembangunan di Universitas Gadjah Mada (UGM), dengahn IPK 3,43. Ia diwisuda pada 19 Juli 2018.
Dan kini masih berproses menuju jenjang doktoral di kampus yang sama.
Kota Gudeg memberinya pelajaran lain tentang keramahan, toleransi, dan cara orang Jawa merawat kehangatan.
“Banyak orang kira orang Papua itu keras. Tapi hati kami sebenarnya lembut,” katanya sambil tertawa kecil.
Di rumah, ia adalah suami bagi Lenora Ambokari dan ayah bagi dua permata hati mereka Ritha Susi Nike Ayemi dan Alex Dortheis Ayemi.
“Saya ingin anak-anaknya mencintai pendidikan sejak dini,” tandasnya.

Marthinus Ferdy Bonny Ayemi, usai kegiatan di LAN tentang SPIP di BPKP Jakarta. (Foto: Dok/Pribadi)
Hobi Musik Reggae
Di luar pekerjaan, Bonny menyalurkan hobi menyanyi dan menikmati musik reggae. Lucky Dube dan Steven Coconat adalah dua nama yang membentuk selera musiknya.
“Musik reggae membuat hati tenang dan damai. Musik reggae adalah ritme hidup orang Papua. Santai, jujur, dan apa adanya,” ucapnya.
Ia juga mencintai basket, tarian adat, dan makanan khas Papua sagu.
Bonny ingin melihat Papua tumbuh dengan lebih banyak anak muda berpendidikan, percaya diri, dan mampu membangun tanah kelahirannya.
Bagi Bonny, Papua bukan sekadar tempat lahir. Tapi rumah yang harus dijaga dengan hati, ilmu, dan keberanian untuk terus melangkah. **


















