Oleh: Makawaru da Cunha (*)
DI tengah keterbatasan pada era 1970-an, seorang tokoh sederhana bernama Albert Rays meletakkan dasar pendidikan pelayaran di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia mendirikan Sekolah Pelayaran Menengah (SPM) Yapen Rays, meski jasanya kini nyaris terlupakan.
Jejak Awal di Maumere
SPM Yapen Rays berdiri sekitar 1970-an di Kota Maumere. Sekolah ini didirikan Albert Rays di bawah naungan Yayasan Pendidikan Rays (Yapen Rays), dengan nama yang diabadikan dari dirinya sendiri.
Pada awalnya, kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam keterbatasan. Sekolah menyewa rumah tua di sekitar Kompleks Pekuburan Santo Yosef sebagai kantor sekaligus tempat tinggal guru dan siswa. Aktivitas belajar menumpang di ruang SDK Maumere II setelah jam sekolah dasar selesai.
Sekolah kemudian berpindah ke rumah Albert Rays di Kampung Buton, Kelurahan Kota Uneng, sebelum akhirnya berkembang menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Pelayaran Yapen Rays.
Seorang anak muda asal Maumere, Jhony Say putra Laurens Say adalah alumni pertama SPM Yapen Rays.
Perintis yang Terlupa
SPM Yapen Rays menjadi sekolah pelayaran pertama di Kabupaten Sikka, bahkan di kawasan Indonesia Timur.
Dari tangan dingin Albert Rays lahir generasi pelaut yang kini bekerja di berbagai perusahaan pelayaran nasional maupun internasional.
Bahkan, seorang alumni pernah mengirimkan foto tampak gagah berdiri di ajungan sebagai nahkoda kapal.
Namun, di balik kontribusi besar itu, sosoknya tak banyak dikenal publik.
Dari Mantri ke Pendidik Pelayaran
Perjalanan hidup Albert Rays tidaklah mudah. Ia pernah bekerja sebagai mantri di Rumah Sakit St Elisabeth Lela. Rumah sakit swasta legendaris, yang didirikan Yayasan Kesehatan St Lukas Keuskupan Agung Ende pada 10 Mei 1935.
Kisah ini dituturkan Adrianus Moang Pitang Say, putra sulung Laurens Say. Di rumah sakit tersebut, Albert Rays bertemu Helena Parera, rekan sejawatnya yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Santo Borromeus, Bandung.
Helena Parera kemudian mengundurkan diri dan menikah dengan Laurens Say pada 1953 dan pindah ke Makassar.
Albert Rays ikut ke Makassar dan bekerja sebagai juru masak, sambil membangun relasi luas, terutama di kalangan perusahaan pelayaran. Ia sempat mencoba mendirikan sekolah pelayaran di Makassar dan Jakarta, namun belum berhasil.
Titik balik terjadi saat ia kembali bertemu Laurens Say, yang saat itu menjabat Bupati Sikka. Laurens Say saat itu tengah melakukan perjalanan dinas ke Departemen Dalam Negeri di Jakarta.
“Kalau kamu ingin tantangan lagi, maka kamu bisa buka sekolah pelayaran di Maumere,” ujar Laurens Say memberi saran.
Berbekal izin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Albert Rays kembali ke Maumere dan pada 21 Februari 1976 resmi mendirikan SPM Yapen Rays.
Sekolah dari Ketulusan
Pada awal berdiri, jumlah siswa masih terbatas, berasal dari berbagai wilayah di NTT seperti Timor, Alor, Flores, Lembata, Solor, dan Sikka.
Keterbatasan tenaga pengajar diatasi dengan semangat gotong royong. Sejumlah pemuda Maumere turut mengajar, di antaranya Rafael da Silva, Seles Rodriquez (PT PELNI Maumere), Piter Sali (Alumni Sekolah Pelayaran Surabaya), dan Blasius Seo (Mantan Anggota DPRD Sikka dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Mereka mengajar tanpa imbalan, tapi didorong semangat membangun Pendidikan di Kabupaten Sikka.
Disiplin dan Ketangguhan
Para siswa dididik dengan disiplin tinggi melalui latihan baris-berbaris dan bela diri. Pendidikan semi militer diterapkan untuk membentuk mental dan ketangguhan.
Di bawah bimbingan pengajar yang dikenal sebagai Pak Joni dari Manado, siswa menjalani berbagai latihan fisik, mulai dari lari di pasir hingga hukuman berendam di laut.

Kepergian yang Hening
Suatu hari, kabar duka itu datang. Albert Rays berpulang. Jenazahnya disemayamkan di rumah tua bekas bangunan Belanda di tepi pantai Maumere. Ia mengenakan pakaian putih lengkap dengan sepatu dan tanda pangkat kapten kapal.
Senyumnya seolah tetap menyala, seperti nyala seribu lilin.
Upacara pemakaman berlangsung sederhana, namun khidmat. Para siswa SMKS Pelayaran Yapen Rays memberi penghormatan terakhir, diiringi atraksi drumband, mengusung peti yang diselimuti bendera merah putih ke liang lahat.
“Almarhum tak beda dengan tokoh-tokoh pendidikan lain, yang layak menerima penghargaan sebagai pahlawan daerah,” ujar Daniel Woda Palle, Sesepuh Kabupaten Sikka, dalam pidatonya saat ibadah Malam ke-4 atau Nara Krus.
Adrianus Moang Pitang Say bahkan mengusulkan agar Albert Rays dimakamkan di lingkungan sekolah sebagai bentuk penghormatan.
Jejak yang Tetap Hidup
Pemerintah Kabupaten Sikka kemudian menghibahkan tanah di Jalan Diponegoro, Wolomarang pada masa pemerintahan Bupati Daniel Woda Palle. Di atasnya berdiri gedung sederhana SMKS Yapen Rays.
Meski fasilitas terbatas, semangat belajar tetap menyala.
Sejak 2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan SMKS Pelayaran Yapen Rays Maumere sebagai satu-satunya SMK pelayaran di Nusa Tenggara Timur berstatus Pusat Keunggulan dengan standar International Maritime Organization (IMO).
Standar tersebut mengacu pada sertifikasi yang diterbitkan IMO, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani sektor kemaritiman, khususnya pelayaran internasional.
Lima Dekade Mengarungi Samudra
Sabtu, 21 Februari 2026, SMKS Pelayaran Yapen Rays merayakan usia emasnya yang ke-50.
Dengan tema “50 Tahun Mengarungi Samudra Pendidikan, Mewujudkan Generasi Pelayaran yang Unggul, Tangguh, dan Berkarakter”, perayaan berlangsung sederhana namun penuh makna.
Balon dilepas ke udara, tumpeng dipotong, lilin ditiup.
Namun di balik perayaan itu, ada satu nama yang seharusnya terus dikenang: Albert Rays.
Seorang pelaut pendidikan yang berlayar dalam sunyi, meninggalkan jejak panjang bagi generasi bangsa.
Selamat merayakan pesta emas SMKS Pelayaran Yapen Rays. Jalesveva Jayamahe. Justru di Laut Kita Jaya.
(*) Jurnalis dan Alumni SDK Maumere II


















