Makawaru da Cunha (*)
GUGUSAN pulau-pulau kecil di depan Teluk Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur bagaikan mosaik, yang terhampar di laut biru dan tenang.
Pulau Babi, Pangabatang, Parumaan, Kojadoi, dan Kojagete tak hanya memiliki terumbu karang yang relatif utuh, keanekaragaman hayati laut tinggi, panorama bawah laut yang indah dan mempesona. Tapi sekaligus menyimpan potensi pariwisata bahari yang bertumpu pada kelestarian ekosistem.
Gugusan pulau-pulau kecil ini pernah disebut sebagai salah satu surga bawah laut terindah di dunia, untuk lokasi snorkelling dan diving.
Meski begitu, gempa bumi dan tsunami dahsyat 1992, yang melanda Maumere dan sekitarnya ikut merusak terumbu karang, keanekaragaman hayati dan panorama bawah laut. Tapi seiring waktu, keindahan laut Teluk Maumere pasti pulih kembali.

Teluk Maumere pernah menjadi pusat perhatian melalui Flores Underwater Festival (FUF) 1988, festival fotografi bawah laut pertama di Pulau Flores. Sejumlah fotografer ternama mendokumentasikan kekayaan laut Teluk Maumere.
FUF 1988, digagas mendiang Frans Seda, ekonom dan mantan menteri tiga periode, untuk mempromosikan kekayaan laut Maumere ke manca negara.
Tiga dekade silam atau 38 tahun silam, saya bersama ayahanda mendiang Ignas da Cunha, tokoh LSM dan peraih Kalpataru hadir menyaksikan saat penyerahan trofi kepada juara pertama FUF 1988, Lionel Pazoli, fotografer bawah laut asal Prancis di Sao Wisata, Desa Waiara di ujung malam yang hening.
Usai perjamuan malam, saya ikut menemani ayahanda ngobrol bersama Frans Seda, didampingi Silvester Fernandez, Manager Sao Wisata, kala itu.
Meski festival itu tak berlanjut sebagai agenda rutin, jejaknya menjadi tonggak awal pengenalan wisata bahari Sikka.
Frans Seda adalah tokoh dibalik visi besar industri pariwisata Maumere, tapi wisata bahari di Teluk Maumere belum dikelola optimal oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka.

Kini, Pemkab Sikka menetapkan pengembangan pariwisata bahari, budaya, dan religi berbasis masyarakat, dengan melibatkan warga sebagai pelaku utama kegiatan wisata.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka mencatat sekitar 116 destinasi wisata, dengan dominasi kawasan bahari dan pesisir yang mulai menggerakkan ekonomi rumah tangga melalui transportasi, homestay, kuliner, dan produk lokal.
Gugusan pulau di Teluk Maumere menegaskan satu pesan krusial: wisata bahari Sikka telah lama ada, tapi nilainya baru terasa ketika peluang itu sungguh digarap.
(*) Jurnalis dan Pencinta Wisata


















