Oleh: Makawaru da Cunha
CITRA PAPUA.COM—KOTA JAYAPURA—Roby Nyong mengisi hari-harinya di Bengkel Las Difa “Disabilitas” dengan tangan bekerja dan tubuh menahan panas. Bengkel kecil itu bukan hanya tempat mencari nafkah, melainkan ruang hidup—tempat ia membangun masa depan, setara kerasnya dengan besi yang ia satukan.
Percikan api las menyambar dan padam di bengkel sederhana di Jalan Melati, depan Puri Gardenia 2 Regency, Abepura. Bau besi terbakar bercampur debu, denting logam menjadi irama harian. Roby menunduk, memusatkan mata pada dua batang besi yang hendak disatukan. Bengkel itu sunyi, kecuali suara kerja. “Keterbatasan itu ada,” kata Roby, “tapi bukan alasan untuk berhenti.”
Bengkel Las Difa “Disabilitas” bukan sekadar tempat bekerja. Dari sana, Roby menerima pesanan: teras, kanopi, tralis jendela, pintu besi, pagar, hingga booth kontainer. “Prinsipnya, semua dikerjakan berdasarkan pesanan,” ujarnya.
Keterampilan mengelas ia tekuni sejak 2009. Peralatan terbatas membuat usaha belum optimal. Baru pada 2021, ia membeli mesin las dan perlengkapan lain, menekuni bengkel dengan serius. Dalam pengerjaan pagar, troli, atau rangka besi, ia menggunakan kompresor agar hasil rapi. Dari tangannya lahir kanopi, troli, kontainer perahu, rak dan lemari besi, pot bunga, tongkat kruk, hingga pesanan lain. “Ke depan kita upayakan untuk membuat kaki palsu,” kata Roby.
Bengkel itu juga menjadi workshop: rekan disabilitas dan masyarakat umum belajar las besi. Promosi dilakukan lewat video, banner, dan iklan, sekaligus berdiskusi langsung soal harga.
Pemilik Bengkel Las Difa “Disabilitas”, Roby Nyong, mengelas rangka besi di bengkel sederhana miliknya di Abepura, Kota Jayapura. (Foto: Dok/Pribadi)
Sepanjang Jalan Kenangan Ternate–Jayapura
Perjalanan hidup Roby penuh lika-liku. Setelah kerusuhan Ternate 1999, ia mengungsi ke Manado. Di sana, ia menjadi supervisor DS-Max Marketing Entrepreneur (2000–2003). Saat ekspansi perusahaan, ia berpindah ke Palu, Samarinda, dan kota lain di Kalimantan Timur. Akhir 2002, ditugaskan ke Jayapura. Berbekal pengalaman, ia memilih mundur dan bekerja mandiri sebagai distributor garmen dari Bogor.
Dukungan Keluarga
Roby Nyong lahir di Ternate 1 Oktober 1978 adalah anak sulung dari lima bersaudara dari pasangan Paulus Nyong dan Yosvin Balak, petani yang mengajarkan kesederhanaan dan kerja keras. Nilai itu terbawa hingga hari ini dalam bengkel, keluarga, dan advokasi.
Roby menikah 2004 dengan Marlin Mappadang, wanita asal Tana Toraja, ASN di Pemerintah Provinsi Papua. Mereka dikaruniai satu anak, Angelius Nyong, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangie, Manado. “Keluarga itu tenaga batin,” katanya. Kesibukan sebagai pengelas, advokat, dan fasilitator nasional tak mengurangi perhatian pada keluarga.
Dari Bengkel ke Ruang Advokasi
Keterampilan las ia peroleh sekaligus dari advokasi. Belajar langsung di bengkel teman-teman disabilitas di Jakarta, ia menegaskan: “Jika orang lain bisa, maka saya pun mampu.” Bergabung dengan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Jayapura pada 2009, Roby memperdalam advokasi, teori hukum, komunikasi dengan pemerintah, hingga praktik menyuarakan isu disabilitas di ruang publik.
Kini ia Ketua Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Fisik Indonesia (PPDFI) Provinsi Papua, aktif di LSM, Direktur Yayasan Papua Mandiri (YPM), fasilitator nasional, konsultan isu disabilitas, dan narasumber pemilu, pilkada, dan kebencanaan.
Ia juga berperan dalam penyusunan RPJMD 2025–2029 Pemerintah Provinsi Papua, untuk memastikan kebijakan inklusif bagi kelompok rentan.
Roby Nyong menyusun rancangan pagar besi pesanan pelanggan di Bengkel Las Difa “Disabilitas”, Kota Jayapura. (Foto: Dok/Pribadi)
Perspektif Global dari Australia
Beasiswa Australia Awards di The University of Sydney, Australia awal 2020 membuka pandangan Roby lebih luas. Ia mengikuti short course Role of Disabled People’s Organisations in the Implementation of Policy Reform. Audit aksesibilitas dan kebijakan inklusif di Australia menjadi bekal memperkuat advokasi di Papua: kolaborasi lintas pemangku kepentingan, implementasi kebijakan, dan integrasi kesetaraan gender.
Jejak di Arena Olahraga Disabilitas
Roby juga aktif di olahraga disabilitas. Atlet lari, lempar lembing dan lempar cakram pada Pekan Paralimpik Nasional (PEPARNAS) XV 2016 Jawa Barat, mewakili Provinsi Papua Barat.
Ia juga Koordinator Pertandingan PEPARNAS XVI Papua 2021. Menurutnya, tantangan di Papua bukan sekadar kurang kepedulian, tapi minim pemahaman. “Pemahaman itu kunci,” ujarnya.
Seperti bengkel lasnya yang nyaris tak pernah padam, Roby Nyong terus menempa besi. Dalam kerja yang berulang dan sunyi itu, ia sekaligus menempa harapan dan tentang hidup yang berdiri di atas kemandirian, bukan belas kasihan.
Kontak Person:
Bengkel Las Difa “Disabilitas”
Jalan Melati, depan Puri Gardenia 2 Regency, Kelurahan Vim, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua
WA: 082199424109


















