Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, MERAUKE—Di perbatasan selatan Papua, tepatnya di Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke—hanya beberapa kilometer dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) RI–Papua New Guinea—tujuh perempuan tangguh membangun usaha kecil yang kini harum namanya hingga ke luar negeri: Madu Pokos Yanggandur.
UMKM ini tak sekadar menjual madu hutan murni, tapi juga memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal Suku Malind Kanume. Brand Pokos sendiri bermakna “terbaik”, sementara dua varian produknya—Bress dan Mentya—berarti “madu manis” dan “sarang hitam manis asam”. “Kami ingin bukan hanya menjual madu, tapi juga memperkenalkan kebudayaan lokal,” ujar Ketua Madu Pokos Yanggandur, Theresia Agnesia Maturbongs, yang juga guru Bahasa Inggris di SMPN Yanggandur.

Karyawati Madu Pokos Yanggandur tengah mengolah lebah menjadi madu hutan murni. (Foto: Dok/Madu Pokos Yanggandur)
Lahir di Tengah Pandemi
Didirikan pada Desember 2019, Madu Pokos Yanggandur berawal dari keresahan saat pandemi Covid-19, ketika masyarakat kesulitan mendapatkan madu murni untuk menjaga daya tahan tubuh. Theresia bersama rekan-rekannya lalu memanfaatkan kekayaan alam sekitar dengan membudidayakan lebah tanpa sengat (stingless bee) jenis Austroplebeia cincta dan Tetragonula mellipes.
Lebah endemik ini hanya ditemukan di tiga wilayah dunia—Papua Selatan (Merauke), Papua New Guinea (PNG), dan Australia—sehingga menjadikan Madu Pokos produk unik dan khas.
Dua Varian, Dua Rasa Unik
Madu Pokos memiliki dua varian utama:
- Bress – madu manis legit hasil lebah Austroplebeia cincta,
- Mentya – madu manis kecut hasil lebah Tetragonula mellipes.
Proses produksi dilakukan alami: lebah dikumpulkan dari hutan, lalu sarang dipindahkan ke kotak budidaya di pekarangan rumah. Setelah panen, madu disaring dua kali—dengan tapisan biasa dan kain halus—tanpa campuran atau pasteurisasi.
“Madu Pokos benar-benar raw honey, fresh dari alam tanpa campuran apa pun,” tegas Theresia.

Karyawati Madu Pokos Yanggandur tengah mengolah lebah menjadi madu hutan murni. (Foto: Dok/Madu Pokos Yanggandur)
Khasiat dan Nilai Kesehatan
Madu Pokos kaya enzim seperti glukosidase dan peroksidase, yang dipercaya berkhasiat menjaga daya tahan tubuh, membantu penderita diabetes, memperbaiki pencernaan, serta bisa digunakan sebagai masker kecantikan alami.
Sementara varian Mentya dikenal ampuh untuk lambung, batuk, dan radang.
Ragam Produk dan Harga
Selain madu, UMKM ini juga memproduksi minyak buah merah, minyak kemiri, abon gastor, teh sarang semut (varian telang, rosella, chamomile), dan Virgin Coconut Oil (VCO).
Harga madu Pokos bervariasi:
- 100 ml plastik Rp50.000
- 100 ml kaca Rp60.000
- 200 ml plastik Rp100.000
- 200 ml kaca Rp120.000
- 300 ml kaca Rp170.000
- Varian Sultan 380 ml Rp250.000

Madu Pokos Yanggandur siap dipasarkan setelah melalui proses pengemasan dalam botol kaca. (Foto: Dok/Madu Pokos Yanggandur)
Pemasaran Menembus Nasional dan Internasional
Madu Pokos Yanggandur dipasarkan secara online dan offline, baik lewat toko cenderamata di Merauke maupun kerja sama dengan SKPD, Rumah BUMN, serta komunitas. Produk ini bahkan telah dikirim ke Jakarta, Magelang, Tangerang, Kedubes Jerman, hingga South Sudan.
Kendati menghadapi tantangan biaya pengiriman, permintaan terus berdatangan. “Respon konsumen bagus, hanya ongkir yang sering jadi kendala,” ujar Theresia.
Kaderisasi Anak Muda dan Dukungan Pemerintah
Ke depan, Theresia bertekad memperbanyak koloni lebah agar pasokan madu stabil dan membuka lapangan kerja baru. Ia juga berencana melakukan kaderisasi bagi anak-anak muda dan putus sekolah, agar mereka bisa mandiri secara ekonomi.
Dukungan datang dari Pemkab Merauke, Rumah BUMN, dan Komunitas Menoken Animha sejak 2021.

Madu Pokos Yanggandur siap dipasarkan setelah melalui proses pengemasan dalam botol kaca. (Foto: Dok/Madu Pokos Yanggandur)
Aktif di Pameran Nasional dan Internasional
Madu Pokos Yanggandur aktif mengikuti berbagai pameran bergengsi, di antaranya:
- Festival Kopi Bank Indonesia Papua (Jayapura, 2022)
- Hari Konservasi Alam Nasional (Bali Barat, 2022)
- Halal Expo (Istanbul, Turki, 2022)
- Pekan Kebudayaan Nasional (Jakarta, 2023)
- Merdeka Ekspor UMKM (Melaka, Malaysia, 2023)
- Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) Ambon (2024)
- Makassar International Eight Festival & Forum (F8) (2024)
Madu Pokos bahkan terpilih mewakili Papua dan Papua Barat sebagai finalis nasional pada ajang Kemenparekraf 2024.
“Kami ingin Madu Pokos Yanggandur menjadi ikon Merauke yang tidak hanya menghidupi, tapi juga melestarikan kearifan lokal Malind Kanume,” tutup Theresia Agnesia Maturbongs. **
Kontak Person:
Theresia Agnesia Maturbongs
WA: 0823 9880 2019
FB: Empi Wae Tetepuh | Madu Trigona Merauke
















