banner 728x250

Bella dan Fera, Dua Putri Papua yang Meniti Karier di Grand Cartenz Hotel Sentani

Dua karyawati Orang Asli Papua (OAP) Grand Cartenz Hotel Sentani, Arlika Sibellawati Vicka Kogoya (kanan) dan Fera Anggel Pangkatana. (Foto: Citra Papua/Makawaru da Cunha)
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Makawaru da Cunha

CITRA PAPUA.COM— SENTANI—Senyum ramah Arlika Sibellawati Vicka Kogoya tak pernah lepas saat menyambut tamu yang datang ke restoran Grand Cartenz Hotel Sentani. Di sisi lain, Fera Anggel Pangkatana dengan sigap memastikan setiap tamu memperoleh pelayanan terbaik. Di balik tugas yang mereka jalankan setiap hari, tersimpan cerita tentang semangat belajar, kerja keras, dan tekad dua perempuan muda Orang Asli Papua (OAP) meniti masa depan di industri perhotelan.

banner 325x300

Bella dan Fera merupakan bagian dari generasi muda Papua yang mendapat kesempatan berkembang bersama Grand Cartenz Hotel Sentani. Sejak hotel mulai beroperasi pada 10 April 2025, manajemen secara konsisten membuka ruang bagi putra-putri Papua untuk berkarier sekaligus meningkatkan kompetensi di dunia hospitality.

Berlokasi di Jalan Sosial Nomor 388, Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Grand Cartenz Hotel Sentani hadir di kawasan yang diapit panorama Danau Sentani dan Pegunungan Cycloop. Kehadiran hotel ini tak hanya memperkuat sektor akomodasi di Kabupaten Jayapura, tapi juga menjadi ruang tumbuh bagi sumber daya manusia lokal yang ingin mengembangkan karier secara profesional.

Manajer Operasional Grand Cartenz Hotel Sentani, Dedi Gobel, mengatakan kualitas pelayanan merupakan fondasi utama dalam industri perhotelan. Karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi investasi yang sama pentingnya dengan pembangunan fasilitas hotel.

“Yang paling penting adalah bagaimana kami membuat tamu merasa nyaman, aman, dan ingin kembali lagi. Pelayanan yang baik selalu berawal dari sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, disiplin, dan sikap melayani,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, sebelum hotel resmi beroperasi seluruh karyawan mengikuti pelatihan intensif selama tiga bulan. Mereka dibekali standar operasional prosedur (SOP), etika pelayanan, komunikasi dengan tamu, hingga budaya kerja di industri hospitality.

“Kalau kita membangun hotel, kita juga harus membangun orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka inilah yang nantinya menjadi wajah pelayanan kepada setiap tamu,” katanya.

Komitmen tersebut kemudian membuka kesempatan bagi Bella dan Fera untuk membangun karier di dunia yang sebelumnya belum pernah mereka bayangkan.

Belajar dari Nol Menjadi Profesional

Bella, sapaan akrab Arlika Sibellawati Vicka Kogoya, merupakan lulusan SMKN 1 Sentani jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Sebelum bergabung dengan Grand Cartenz Hotel Sentani, ia pernah bekerja di sebuah restoran Chinese Food di Kuala Kencana, Timika.

Pengalaman itu menjadi bekal awal sebelum memasuki dunia perhotelan yang memiliki standar pelayanan berbeda. Meski harus memulai dari nol, Bella melihat kesempatan tersebut sebagai ruang belajar sekaligus mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.

“Ini pengalaman pertama saya bekerja di hotel. Pengalaman di restoran menjadi bekal untuk melayani tamu, tapi di sini saya belajar lebih banyak tentang standar pelayanan di dunia hospitality,” ujar Bella.

Baginya, pekerjaan yang dijalani bukan sekadar mencari penghasilan. Ia ingin membuktikan ilmu yang diperoleh selama sekolah dapat diterapkan di dunia kerja sekaligus membantu keluarga.

“Saya ingin mengaplikasikan ilmu yang saya pelajari di sekolah ke dunia kerja. Berapa pun gaji yang saya terima adalah hasil kerja keras sendiri. Selain menjadi pengalaman berharga, penghasilan itu juga bisa membantu meringankan beban orang tua dan membiayai adik-adik saya yang masih bersekolah,” tutur Bella.

Melayani dengan Hati

Di balik senyum yang selalu mereka tampilkan, Bella dan Fera menjalankan tugas sebagai waitress atau pelayan restoran dengan penuh ketulusan. Keduanya sigap menyambut tamu yang datang, mengantar menuju meja, mencatat pesanan, menyajikan makanan dan minuman, hingga memastikan setiap kebutuhan tamu terpenuhi.

Saat restoran mulai dipenuhi tamu, Bella dan Fera tampak saling berbagi tugas. Sesekali keduanya saling berkomunikasi untuk memastikan pelayanan tetap berjalan lancar. Ketika ada tamu yang masih memerlukan tambahan makanan maupun minuman, mereka segera merespons dengan cepat tanpa mengurangi keramahan.

Bagi Bella dan Fera, keramahan bukan sekadar standar pelayanan hotel, tapi juga bentuk penghormatan kepada setiap tamu yang datang.

“Kami ingin setiap tamu merasa nyaman selama berada di sini. Kalau masih ada yang dibutuhkan, kami akan berusaha melayani sebaik mungkin supaya tamu merasa seperti berada di rumah sendiri,” ujar Bella, diamini Fera.

Kepercayaan yang Menjadi Motivasi

Bagi Fera Anggel Pangkatana, kesempatan bergabung dengan Grand Cartenz Hotel Sentani menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan kariernya. Alumni SMK YPPK Sentani itu mulai bekerja sehari sebelum hotel resmi beroperasi dan langsung menjadi bagian dari tim pelayanan restoran.

Perempuan muda Orang Asli Papua itu mengaku kepercayaan yang diberikan manajemen menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kemampuan dan profesionalisme dalam bekerja.

“Puji Tuhan, saya sangat bersyukur bisa bekerja di sini. Kesempatan dan kepercayaan yang diberikan manajemen menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus berkarier di dunia perhotelan. Sebagai Orang Asli Papua, saya ingin membuktikan bahwa kami juga mampu memberikan pelayanan yang profesional,” kata Fera.

Menurut Fera, dunia hospitality mengajarkannya arti kesabaran, disiplin, dan kemampuan berkomunikasi dengan berbagai karakter tamu.

Ia menuturkan, setiap tamu memiliki harapan dan cara berkomunikasi yang berbeda. Karena itu, setiap keluhan harus diterima sebagai masukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan.

“Kalau ada tamu yang menyampaikan keluhan, kami harus benar-benar menanggapinya dengan baik. Setiap tamu memiliki karakter yang berbeda. Semua masukan menjadi bahan evaluasi agar pelayanan kami semakin baik,” ujarnya.

Fera mengakui, pada waktu-waktu tertentu restoran menghadapi tingkat kesibukan yang tinggi, terutama ketika hotel menerima kegiatan atau acara yang datang secara mendadak. Kondisi tersebut terkadang menyebabkan penyajian makanan membutuhkan waktu lebih lama.

Namun, menurutnya, situasi itu justru menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan koordinasi antarkaryawan agar pelayanan kepada tamu tetap terjaga.

Kesempatan yang Membuka Masa Depan

Manajer Operasional Grand Cartenz Hotel Sentani, Dedi Gobel, mengatakan pengembangan sumber daya manusia lokal merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung kemajuan sektor pariwisata di Papua.

Menurut Dedi, industri perhotelan membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga karakter yang baik, disiplin, serta mampu memberikan pelayanan yang tulus kepada tamu.

“Kami ingin putra-putri Papua memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Kalau diberikan ruang belajar dan kesempatan bekerja, saya yakin mereka mampu menunjukkan kualitas dan profesionalisme yang tak kalah dengan tenaga kerja dari daerah lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, investasi terhadap sumber daya manusia akan memberikan manfaat jangka panjang, bukan hanya bagi perusahaan, tapi juga bagi perkembangan industri pariwisata dan ekonomi di Kabupaten Jayapura.

Keberadaan Bella dan Fera menjadi salah satu contoh bagaimana kesempatan, pelatihan, dan kepercayaan dapat membuka jalan bagi generasi muda Orang Asli Papua untuk membangun karier di industri hospitality.

Mengajak Generasi Muda Papua Berani Bermimpi

Bella dan Fera berharap semakin banyak generasi muda, khususnya Orang Asli Papua (OAP), tak ragu mencoba peluang kerja di sektor perhotelan maupun bidang jasa lainnya. Menurut mereka, keberanian memulai dan kemauan untuk terus belajar menjadi kunci untuk berkembang.

“Awalnya memang ada rasa grogi karena memasuki dunia kerja yang baru. Tapi kalau kita mau belajar, mendengarkan arahan, dan terus berlatih, lama-kelamaan kita akan terbiasa dan semakin percaya diri,” ujar Fera.

Bella menyampaikan pesan serupa. Menurutnya, tak ada pekerjaan yang langsung dikuasai tanpa proses belajar dan kerja keras.

“Yang terpenting adalah mau bekerja sambil terus belajar. Semua pekerjaan pasti ada prosesnya. Kalau kita tekun, disiplin, dan tak mudah menyerah, kemampuan itu akan berkembang dengan sendirinya,” kata Bella.

Bagi Bella, pekerjaan yang dijalaninya hari ini bukan sekadar profesi, tapi juga bentuk tanggung jawab untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama di bangku sekolah serta membantu perekonomian keluarga.

Lebih dari Sekadar Melayani Tamu

Menjelang sore, ketika tamu mulai berdatangan ke restoran Grand Cartenz Hotel Sentani, Bella dan Fera kembali mengenakan senyum terbaik mereka. Dengan langkah sigap, keduanya menyambut tamu, mengantar ke meja, mencatat pesanan, lalu menghidangkan makanan dan minuman satu per satu.

Di sela kesibukan itu, sesekali terdengar ucapan terima kasih dari tamu yang mereka layani. Bella dan Fera membalasnya dengan senyum dan sapaan hangat sebelum kembali menjalankan tugas berikutnya.

Bagi mereka, pelayanan bukan sekadar memenuhi standar operasional hotel. Keramahan, kesabaran, dan kepedulian menjadi bagian dari cara menghargai setiap tamu yang datang.

Di balik seragam kerja yang mereka kenakan, tersimpan harapan yang lebih besar. Mereka ingin membuktikan bahwa generasi muda Orang Asli Papua memiliki kemampuan, kemauan belajar, dan etos kerja untuk bersaing secara profesional di industri hospitality.

Kisah Bella dan Fera menunjukkan bahwa kesempatan yang disertai pembinaan mampu melahirkan sumber daya manusia Papua yang percaya diri, terampil, dan siap menjadi wajah pelayanan di daerahnya sendiri. Bagi Grand Cartenz Hotel Sentani, membangun hotel bukan hanya menghadirkan bangunan dan fasilitas, tapi juga ikut membangun masa depan putra-putri Papua melalui dunia kerja yang profesional. **

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *