banner 728x250

Grand Cartenz Hotel Sentani, Jejak Semmy Calvin Kogoya Membangun Papua

Owner Grand Cartenz Hotel Sentani, Semmy Calvin Kogoya. (Foto: Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Makawaru da Cunha

CITRA PAPUA.COM, SENTANI—Di balik berdirinya Grand Cartenz Hotel Sentani, tersimpan perjalanan panjang seorang pengusaha Orang Asli Papua yang meyakini bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Berbekal keyakinan, keberanian, dan tanah yang dimilikinya, Semmy Calvin Kogoya memilih menapaki jalan yang tak banyak dilirik: membangun usaha di industri perhotelan.

banner 325x300

Bagi Semmy, hotel bukan sekadar bangunan yang menyediakan kamar untuk bermalam. Lebih dari itu, Grand Cartenz Hotel Sentani menjadi ruang untuk menghadirkan manfaat, membuka kesempatan belajar, menciptakan lapangan kerja, dan ikut menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Keyakinan itulah yang mengantarkannya mendirikan Grand Cartenz Hotel Sentani di Jalan Toladan, Ifar Gunung, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. Berada di jalur menuju Kompleks Rindam XVII/Cenderawasih dan hanya beberapa menit dari Bandara Sentani, hotel ini menempati lokasi yang strategis sebagai pintu masuk Kabupaten Jayapura.

Di tengah tumbuhnya aktivitas pemerintahan, perdagangan, dan pariwisata di Sentani, Semy melihat kawasan tersebut memiliki prospek yang menjanjikan. Ia percaya, sebuah wilayah akan berkembang apabila ada yang berani memulai investasi dan menghadirkan aktivitas ekonomi.

“Salah satu alasan utama saya membangun hotel di lokasi ini karena sejak awal saya melihat kawasan ini memiliki potensi besar. Setiap kali melihat suatu wilayah, saya selalu bertanya dalam hati, apakah tempat ini bisa menjadi tujuan untuk hunian, pariwisata, atau kegiatan usaha lainnya,” ujar Semmy, Rabu (5/8/2026) malam.

Menurutnya, nilai sebuah kawasan tidak lahir begitu saja, tetapi dibangun melalui keberanian untuk memulai dan menghadirkan perubahan. Cara pandang itulah yang kemudian menjadi pijakan dalam membangun Grand Cartenz Hotel Sentani.

Perjalanan tersebut bukanlah proses yang singkat. Semmy mulai merintis pembangunan hotel pada 2014. Setelah melalui berbagai tahapan, Grand Cartenz Hotel Sentani akhirnya resmi beroperasi pada 10 April 2025.

Selama lebih dari satu dekade, ia memegang keyakinan bahwa sebuah kawasan dapat tumbuh ketika ada orang yang berani mengambil langkah pertama.

“Saya sering mengatakan kepada teman-teman, jangan pernah berkata tidak bisa. Kalau memiliki tanah, itu sudah menjadi modal yang sangat besar. Tanah tidak perlu dibeli lagi. Tinggal bagaimana mencari cara agar bisa membangun. Mulailah secara bertahap,” katanya.

Bagi Semmy, tanah bukan hanya aset yang dimiliki, melainkan fondasi untuk menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Dari keyakinan sederhana itulah Grand Cartenz Hotel Sentani tumbuh sebagai salah satu karya seorang pengusaha Orang Asli Papua yang ingin mengambil bagian dalam pembangunan daerah melalui industri perhotelan.

Grand Cartenz Hotel Sentani di Jalan Toladan, Ifar Gunung, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. (Foto: CitraPapua.com/Makawaru da Cunha)

Oase Hijau di Gerbang Papua

Keyakinan itu kemudian diwujudkan dalam konsep yang diusung Grand Cartenz Hotel Sentani. Semmy tidak sekadar membangun hotel, tetapi menghadirkan ruang menginap yang menyatu dengan lanskap alam Sentani.

Mengusung konsep garden hotel, Grand Cartenz Hotel Sentani memadukan kenyamanan modern dengan nuansa hijau yang menjadi ciri khas kawasan Danau Sentani dan Pegunungan Cycloop. Suasana yang teduh dan asri diharapkan memberi pengalaman berbeda bagi setiap tamu yang datang, baik untuk urusan bisnis, pemerintahan, gereja maupun wisata.

Saat ini Grand Cartenz Hotel Sentani memiliki 45 kamar yang terdiri atas dua Cartenz Suite, dua Executive Suite, serta 41 kamar Deluxe Double dan Deluxe Twin.

Untuk menunjang kebutuhan tamu, hotel juga dilengkapi restoran, lounge, Obhe Meeting Room, serta rooftop di lantai enam yang menawarkan panorama kawasan Sentani. Obhe Meeting Room menjadi salah satu fasilitas ruang pertemuan di Grand Cartenz Hotel Sentani yang dirancang untuk mendukung berbagai kegiatan, mulai dari rapat, pelatihan, seminar, hingga pertemuan bisnis.

Ke depan, manajemen telah menyiapkan sejumlah pengembangan fasilitas, di antaranya ballroom, kolam renang, sauna, dan pusat kebugaran sebagai bagian dari peningkatan layanan.

Meski terus melengkapi fasilitas, Semmy menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah hotel tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan atau banyaknya fasilitas yang dimiliki.

Baginya, kekuatan utama industri perhotelan terletak pada kualitas pelayanan dan sumber daya manusia yang menjalankannya.

“Hotel boleh bagus, tetapi yang membuat tamu ingin kembali adalah pelayanan. Keramahan dan sikap melayani menjadi nilai yang tidak bisa digantikan oleh bangunan semegah apa pun,” ujarnya.

Pandangan itu menjadi landasan manajemen dalam membangun budaya kerja di Grand Cartenz Hotel Sentani. Setiap karyawan didorong untuk menghadirkan pelayanan yang profesional, ramah, dan menghormati setiap tamu tanpa membedakan latar belakang.

Bagi Semy, industri perhotelan adalah industri yang bertumpu pada kepercayaan. Karena itu, pelayanan yang baik harus tumbuh dari karakter, disiplin, dan komitmen setiap insan yang bekerja di dalamnya.

Nilai-nilai tersebut sekaligus menjadi bekal untuk menyiapkan generasi muda Papua agar mampu bersaing di dunia kerja.

Hotel, menurutnya, tidak hanya menjadi tempat usaha, tetapi juga ruang belajar yang membuka kesempatan bagi anak-anak Papua mengenal standar kerja di industri perhotelan.

Dari sinilah komitmen Semmy untuk memberdayakan Orang Asli Papua mulai diwujudkan melalui kesempatan belajar, praktik kerja, dan penyerapan tenaga kerja di Grand Cartenz Hotel Sentani.


Suasana malam dari rooftop lantai 6 Grand Cartenz Hotel Sentani yang menjadi salah satu area bersantai bagi para tamu. (Foto: CitraPapua.com/Makawaru da Cunha)

Memberi Ruang bagi Orang Asli Papua

Di balik operasional Grand Cartenz Hotel Sentani, Semmy Calvin Kogoya memikul harapan yang lebih besar daripada sekadar mengelola sebuah usaha. Ia ingin kehadiran hotel menjadi ruang tumbuh bagi Orang Asli Papua untuk mengenal dunia kerja, meningkatkan keterampilan, dan membangun kepercayaan diri di industri perhotelan.

Baginya, pembangunan Papua tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Dunia usaha juga memiliki tanggung jawab untuk membuka kesempatan, menciptakan lapangan kerja, dan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing.

“Pemberdayaan Orang Asli Papua itu harus didukung oleh berbagai pihak, baik dari sektor perhotelan, pemerintahan, dunia usaha, maupun unsur lainnya,” ujar Semmy.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kebijakan Grand Cartenz Hotel Sentani yang membuka kesempatan bagi anak-anak Papua untuk belajar dan bekerja. Namun, kesempatan itu harus berjalan seiring dengan profesionalisme yang menjadi standar dalam industri perhotelan.

“Kami selalu membuka diri bagi orang Papua yang ingin belajar di hotel ini. Tetapi bekerja di industri perhotelan membutuhkan sikap yang baik, disiplin, kerapian, keramahan, dan kemampuan melayani tamu dengan sepenuh hati,” katanya.

Menurut Semmy, pelayanan merupakan identitas sebuah hotel. Karena itu, kemampuan teknis harus dibarengi dengan karakter yang baik agar setiap tamu memperoleh pengalaman yang menyenangkan selama menginap.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan vokasi. Grand Cartenz Hotel Sentani menjadi tempat praktik kerja lapangan bagi siswa SMK Negeri 1 Sentani dan SMKS Teknologi Informasi dan Komunikasi YPKP Sentani.

Melalui program tersebut, para siswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga mengenal secara langsung ritme kerja di industri perhotelan, mulai dari pelayanan tamu, tata graha (housekeeping), hingga operasional hotel.

Bagi Semmy, pengalaman lapangan merupakan bekal yang tidak ternilai bagi generasi muda Papua.

“Ketika mereka selesai sekolah, pengalaman yang diperoleh di sini menjadi modal untuk bekerja di mana saja, khususnya di bidang jasa perhotelan,” ujarnya.

Ia meyakini semakin banyak generasi muda Papua yang memiliki pengalaman kerja dan kompetensi, semakin besar pula peluang mereka untuk berkembang, baik di Papua maupun di berbagai daerah di Indonesia.

Karena itu, Grand Cartenz Hotel Sentani tidak hanya diposisikan sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan dunia pendidikan dengan dunia usaha.

Bagi Semmy, keberhasilan sebuah hotel bukan hanya diukur dari tingkat hunian atau pertumbuhan usaha, melainkan juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat di sekitarnya. Dari keyakinan itulah ia berharap Grand Cartenz Hotel Sentani dapat terus melahirkan sumber daya manusia Papua yang profesional, berdaya saing, dan siap menjadi bagian dari kemajuan industri perhotelan nasional.


Panorama Danau Sentani pada malam hari yang terlihat dari rooftop lantai 6 Grand Cartenz Hotel Sentani. (Foto: CitraPapua.com/Makawaru da Cunha)

Melihat Peluang, Membangun Masa Depan

Bagi Semmy Calvin Kogoya, membangun usaha di Papua tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya modal, melainkan oleh keberanian melihat peluang. Ia meyakini banyak potensi ekonomi di Papua yang belum tergarap secara optimal dan dapat memberikan manfaat apabila dikelola dengan baik.

Menurutnya, tanah yang dimiliki masyarakat bukan hanya aset, tetapi juga modal awal untuk membangun masa depan.

“Kalau memiliki tanah, itu sudah menjadi modal yang sangat besar. Tinggal bagaimana mencari cara agar bisa membangun. Mulailah secara bertahap, baik membangun rumah, ruko, maupun usaha lainnya. Semua itu merupakan investasi jangka panjang,” ujarnya.

Pandangan itu pula yang melandasi kehadiran Grand Cartenz Hotel Sentani. Bagi Semmy, hotel bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari upaya mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Ia berharap keberadaan hotel dapat menjadi pemicu berkembangnya berbagai sektor lain, mulai dari kawasan hunian, pertokoan, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga destinasi wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat Kabupaten Jayapura.

Optimisme itu juga berangkat dari kekayaan alam Papua yang dinilainya memiliki daya tarik besar bagi pengembangan pariwisata. Danau Sentani, kawasan pesisir, serta berbagai destinasi alam lainnya merupakan potensi yang membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha.

Menurut Semy, kemajuan sektor pariwisata tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi agar potensi yang dimiliki Papua mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.

Di tengah berkembangnya industri perhotelan di Papua, Semmy memilih melihat pelaku usaha lain sebagai mitra, bukan pesaing.

“Saya tidak melihat hotel-hotel lain sebagai ancaman. Bagi saya, para pelaku usaha hotel di Papua adalah saudara-saudara saya. Kami sama-sama membangun industri perhotelan,” katanya.

Baginya, persaingan yang sehat justru mendorong setiap pelaku usaha untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan menghadirkan pengalaman terbaik bagi tamu.

Sebagai pelaku usaha, Semy juga menegaskan komitmennya menjalankan kewajiban kepada negara dan pemerintah daerah. Grand Cartenz Hotel Sentani secara rutin memenuhi kewajiban perpajakan, mulai dari pajak hotel, pajak restoran, Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 karyawan, hingga kepesertaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja. Kontribusi tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jayapura.

Perjalanan Semmy Calvin Kogoya bersama Grand Cartenz Hotel Sentani pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang berdirinya sebuah hotel. Di balik bangunan itu tersimpan keyakinan bahwa Orang Asli Papua mampu menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri.

Melalui Grand Cartenz Hotel Sentani, Semmy menunjukkan bahwa keberanian memulai dapat melahirkan manfaat yang lebih luas. Bukan hanya menghadirkan layanan bagi para tamu, tetapi juga membuka ruang belajar, menciptakan lapangan kerja, dan ikut menggerakkan perekonomian daerah.

Di tengah pesatnya pembangunan Papua, jejak yang ditinggalkan Semmy Calvin Kogoya menjadi pengingat bahwa perubahan sering kali berawal dari satu langkah yang diyakini dan dikerjakan dengan tekun. Dari tanah sendiri, ia membuktikan bahwa karya dapat tumbuh, memberi manfaat, dan menjadi bagian dari masa depan Papua.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *