banner 728x250

Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha, Mantan ASN yang Menghidupkan Taekwondo di Sikka

Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha pada Kejurnas PPLP di GOR POPKI, Jakarta, 2022. (Foto: Istimewa)
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Makawaru da Cunha (*)

DARI pesisir Maumere yang tenang hingga riuh arena pertandingan, langkah Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha, yang akrab disapa Ferdy mengalir dalam satu tarikan panjang pengabdian.

banner 325x300

Ia bukan sekadar mantan Aparatur Sipil Negara (ASN), dengan jabatan terakhir Kepala Bidang Pembinaan SMP di Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, melainkan sosok yang menyalakan, merawat, dan menjaga denyut Taekwondo di Kabupaten Sikka agar tetap hidup—bahkan tumbuh melampaui zamannya.

Di ruang-ruang latihan sederhana, di antara peluh dan disiplin yang diulang setiap hari, ia menanamkan lebih dari sekadar teknik.

Ia membentuk karakter, menumbuhkan ketekunan, dan mengajarkan arti bertahan dalam proses yang panjang. Baginya, Taekwondo bukan hanya olahraga, tapi jalan hidup—yang membimbing seseorang mengenali diri, sekaligus melampauinya.

Sebagai mantan ASN, ia telah menuntaskan tugas formalnya. Namun pengabdian itu tak berhenti. Justru di titik inilah, ia memilih melanjutkan perannya dengan cara yang lebih sunyi namun bermakna: membina generasi muda, menuntun mereka agar berani bermimpi dari tempat yang sederhana.

Di setiap tendangan yang terarah, di setiap sikap hormat sebelum dan sesudah latihan, ada nilai-nilai yang ia wariskan. Dan dari sana, perlahan tapi pasti, Taekwondo di Sikka tak hanya bertahan—ia hidup, bergerak, dan menemukan masa depannya.

Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha memimpin cabang olahraga taekwondo pada PON XXI Aceh–Sumut 2024. (Foto: Istimewa)

Dari Laut Menuju Arah Hidup

Angin laut tak sekadar mengantar perjalanan, tapi juga menuliskan arah hidup. Bagi Ferdy, tahun 1982 menjadi simpang sunyi yang menentukan: sebuah titik ketika masa kanak-kanak perlahan ditinggalkan, dan masa depan mulai memanggil dengan suara yang belum sepenuhnya ia mengerti.

Selepas menamatkan pendidikan di SMPK Bunga Fatima Lela, ia sempat menapaki jenjang berikut di SPM Yapen Rays Maumere. Langkah itu terasa singkat—seperti jeda napas sebelum takdir mengajaknya berlayar lebih jauh. Liburan yang mestinya sederhana, menyusul pamannya, almarhum Wio da Cunha di Makassar, justru berubah menjadi perjalanan batin yang mengendap lama dalam ingatan.

Sepuluh hari di atas geladak KM Niaga 14 bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan peralihan cara pandang. Kapal itu singgah di Labuan Bajo, Bima, Tanah Jampea, hingga Selayar—deretan pulau yang bagai manik-manik di leher Nusantara. Laut mengajarkannya kesabaran: menunggu ombak reda, menakar jarak tanpa tergesa. Laut juga menanamkan ketekunan: bahwa setiap tujuan membutuhkan waktu, dan setiap perjalanan menuntut keteguhan hati.

Di antara desir angin dan gemuruh mesin kapal, Ferdy belajar membaca hidup seperti membaca cakrawala—luas, tak pasti, tetapi selalu memberi harapan bagi mereka yang berani melangkah.

Makassar menjadi pelabuhan baru, sekaligus gerbang perubahan. Di kota yang lebih ramai dari kampung halamannya, sang paman melihat peluang yang tak boleh dilewatkan. Ia menyarankan Ferdy melanjutkan pendidikan di SMAK Frater Makassar—sebuah pilihan yang kelak menjadi fondasi penting bagi perjalanan hidupnya.

“Maklum, anak kampung yang baru pertama kali ke kota, saya langsung menerima saran itu,” kenangnya, dengan senyum yang menyimpan jejak keraguan sekaligus keberanian.

Keputusan itu sederhana, nyaris tanpa banyak pertimbangan. Namun justru di situlah letak kejujurannya: seorang anak muda yang belum sepenuhnya memahami arah, tapi memilih percaya—pada keluarga, pada kesempatan, dan pada langkah kecil yang pelan-pelan membawanya menuju masa depan.

Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha dalam ajang PON XXI Aceh–Sumut 2024. (Foto: Istimewa)

Menemukan Diri di Dojang

Di sebuah ruang sederhana yang beralaskan matras dan gema teriakan latihan, Ferdy perlahan menemukan dirinya. Tahun 1983, di Dojang Pertamina di Jalan Garuda Makassar dan lingkungan SMAK Frateran Makassar, ia pertama kali bersentuhan dengan Taekwondo—sebuah perjumpaan yang kelak tak hanya membentuk tubuhnya, tapi juga menata jiwanya.

Gerakan demi gerakan ia pelajari dengan tekun. Tendangan, pukulan, dan kuda-kuda bukan sekadar teknik, melainkan bahasa disiplin yang mengalir dalam setiap latihan. Di sana, ia belajar tentang hormat kepada pelatih, kesabaran dalam proses, dan ketekunan yang tak boleh goyah oleh lelah.

“Saya tertarik pada perpaduan kaki, tangan, dan seni bela diri. Tapi saya juga suka sepak bola,” ujarnya, mengingat masa ketika gairah mudanya terbagi antara lapangan rumput dan dojang yang sunyi namun penuh makna.

Namun, Taekwondo perlahan menambatkan hatinya. Di dalam dojang, ia menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar olahraga—ia menemukan cara untuk mengenali batas diri, sekaligus keberanian untuk melampauinya.

Buah dari ketekunan itu mulai tampak pada 1985. Dalam Kejurda Taekwondo se-Sulawesi Selatan di Makassar, ia meraih medali perak di kelas fin. Sebuah capaian yang sederhana, tapi cukup untuk menegaskan bahwa jalan yang ia pilih bukanlah langkah yang keliru.

Di sela perjalanan itu, hidup membawanya menyentuh realitas lain. Ia sempat bekerja di Perkebunan Inti Rakyat (PIR) kelapa sawit di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan pada 1984–1985.

Dunia kerja yang keras dan ritme hidup yang berbeda menjadi ruang pembelajaran baru—mengajarkannya tentang daya tahan, kerja nyata, dan arti bertahan di tengah keterbatasan.

Dari dojang hingga kebun sawit, Ferdy menapaki fase-fase hidup yang tampak berjarak, namun sesungguhnya saling menguatkan. Ia bukan hanya sedang belajar menjadi atlet, tapi juga sedang ditempa menjadi manusia yang utuh—yang tahu kapan harus bertarung, dan kapan harus bertahan.

Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha mendampingi taekwondoin pada PORPROV NTT 2022 di Kupang. (Foto: Istimewa)

Pulang dan Merintis dari Nol

Pulang, bagi Ferdy, bukan sekadar kembali ke tanah kelahiran. Ia adalah panggilan untuk menanam kembali apa yang pernah tumbuh di rantau—meski harus dimulai dari tanah yang nyaris kosong. Tahun 1988, ia menjejakkan kaki di Maumere, membawa serta pengalaman, disiplin, dan keyakinan yang telah ditempa di dojang-dojang Makassar.

Bersama almarhum Frans Sius Rofinus dan sejumlah praktisi sabuk hitam lainnya, ia mulai merintis langkah-langkah kecil yang penuh arti. Tak ada gedung megah, tak pula fasilitas memadai. Aula Gedung Wanita di Kompleks Pertokoan Maumere menjadi saksi awal, lalu pesisir pantai dengan angin laut yang keras, hingga halaman sekolah yang sederhana—semuanya berubah menjadi ruang latihan. Di tempat-tempat itulah, keringat jatuh, semangat tumbuh, dan harapan perlahan disusun.

Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Justru dari kekurangan itu, lahir ketangguhan. Mereka berlatih dengan apa adanya, mengandalkan tekad yang tak mudah padam. Taekwondo di Maumere tumbuh bukan karena kelimpahan, melainkan karena ketekunan yang terus dirawat.

Waktu berjalan, dan benih yang ditanam perlahan menemukan bentuknya. Tahun 2000 menjadi tonggak penting ketika Pengurus Daerah Taekwondo Indonesia Nusa Tenggara Timur (NTT) terbentuk di bawah Dewan Guru Johni Liem Hong Siong. Dari situ, langkah pembinaan mulai tertata: pendataan pelatih dilakukan, standarisasi Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) diperjelas, dan ruang-ruang kompetisi diperluas.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Nama-nama atlet dari daerah ini tampil dalam ajang-ajang seperti POPDA, PORPROV NTT, hingga kejuaraan terbuka. Prestasi demi prestasi menjadi penanda bahwa kerja sunyi yang dimulai dari nol itu tak sia-sia.

Di balik semua itu, Ferdy tak hanya membangun sebuah cabang olahraga. Ia sedang menyalakan api—api yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebab ia percaya, dari tempat sederhana sekalipun, mimpi besar tetap bisa tumbuh, selama ada keberanian untuk memulai.


Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha mendampingi taekwondoin pada PORPROV NTT 2022 di Kupang. (Foto: Istimewa)

Menjaga Integritas di Arena

Di tengah riuh sorak penonton dan ketegangan yang menggantung di setiap pertandingan, Ferdy berdiri di garis yang tak kasatmata—garis yang memisahkan benar dan salah, adil dan keberpihakan. Sejak 2013, ketika ia dipercaya menjadi Wasit Nasional Kyorugi Kelas I, perannya tak lagi sekadar bagian dari pertandingan, melainkan penjaga marwah olahraga itu sendiri.

Dari kejuaraan-kejuaraan lokal hingga panggung nasional, langkahnya berpindah dari satu arena ke arena lain. Ia hadir di Pra PON, kemudian di PON XX Papua 2021, hingga PON XXI Aceh–Sumut 2024—menyaksikan, menilai, dan memutuskan dengan keteguhan yang lahir dari pengalaman panjang. Di setiap keputusan, ada tanggung jawab besar: menjaga keadilan tetap tegak, bahkan ketika tekanan datang dari berbagai arah.

Namun, menjadi wasit bukanlah akhir dari perjalanan belajar. Ferdy terus mengasah diri, memperbarui pengetahuan, dan memperluas wawasan.

Ia mengikuti Diklat Penguji Nasional pada 2023, lalu melanjutkan dengan Diklat Wasit Nasional Poomsae tahun 2025 untuk wilayah Indonesia Tengah di Kuta, Bali. Baginya, integritas bukan hanya soal sikap, tapi juga soal kompetensi yang terus dirawat.

Di luar arena pertandingan, ia juga pernah berada di pusaran dinamika organisasi. Tahun 2014, ketika dualisme kepengurusan Taekwondo NTT mencuat, Ferdinandus berdiri sebagai saksi—menyaksikan dari dekat tarik-menarik kepentingan yang berpotensi meretakkan persatuan.

“Saya jadi saksi kunci penyelesaian dualisme kepengurusan Taekwondo NTT,” tandasnya.

Pengalaman itu mengajarkannya bahwa menjaga integritas tak selalu mudah. Kadang, ia menuntut keberanian untuk tetap teguh di tengah arus yang berlawanan. Namun bagi Ferdy, baik di dalam maupun di luar arena, prinsipnya tetap sama: kejujuran adalah fondasi, dan keadilan adalah tujuan yang tak boleh ditawar.

Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha mendampingi taekwondoin Sikka menjelang PORPROV NTT di Kupang. (Foto: Istimewa)

Menyemai Generasi, Menjaga Harapan

Waktu boleh bergerak maju, tapi bagi Ferdy, pengabdian tak pernah mengenal kata usai. Jika dulu ia ditempa di dojang dan diuji di arena, kini ia berdiri sebagai penuntun—menyemai harapan di dada generasi yang datang kemudian.

Sebagai Ketua Pengurus Kabupaten Taekwondo Indonesia Sikka dan Koordinator Wasit Pengprov Taekwondo Indonesia NTT, ia mengabdikan diri pada satu tujuan: memastikan api yang dulu ia nyalakan tak pernah padam. Di setiap sesi latihan, di setiap tatapan anak-anak muda yang penuh semangat, ia melihat bayangan masa lalunya—rapuh, ragu, tapi menyimpan tekad yang perlahan tumbuh menjadi keyakinan.

Ia tak sekadar melatih teknik. Ia membangun karakter, menanamkan disiplin, dan mengajarkan arti perjuangan. Baginya, kemenangan bukan hanya soal medali, melainkan tentang proses panjang yang membentuk manusia.

“Taekwondo Sikka sedang mempersiapkan atlet untuk PORPROV NTT 2026 di Kupang. Jika lolos, siap berlaga di PON NTT dan NTB XXII tahun  2028,” ujarnya, dengan nada yang tenang namun menyimpan keyakinan.

Di balik optimisme itu, tersimpan kenangan tentang generasi awal yang pernah ia dampingi. Nama-nama seperti Dedy Sadipun dan Vivi Sine menjadi penanda jejak—mereka yang pernah melangkah lebih jauh, tampil di tingkat nasional pada Pra PON 1998 dan PON XVIII Riau 2012. Prestasi itu bukan sekadar catatan, melainkan bukti bahwa mimpi dari daerah kecil pun mampu menembus batas.

Kini, Ferdy melanjutkan estafet itu. Ia tahu, tak semua anak didiknya akan menjadi juara. Namun selama mereka tumbuh dengan disiplin, keberanian, dan harapan, ia percaya: Taekwondo telah menjalankan perannya.

Sebab pada akhirnya, yang ia jaga bukan hanya prestasi, melainkan masa depan—yang perlahan tumbuh, seperti benih-benih yang disemai dengan kesabaran, dan dipelihara dengan keyakinan yang tak pernah usang.

William Woda da Cunha, taekwondoin Sikka, saat pelepasan menuju PORPROV NTT 2022. (Foto: Istimewa)

Janji yang Diikat di Bawah Nafas Doa

Pada suatu pagi yang bening, 24 Juni 1996, langkah hidup Ferdy menemukan arah barunya. Di altar Gereja St. Yoseph Maumere, ia menggenggam tangan Maria Yasintha Dua Gulo—sepasang insan yang memilih berjalan bersama, bukan sekadar hari itu, tapi sepanjang waktu.

Di hadapan keluarga, sahabat, dan jemaat yang khusyuk, RD Dominikus Dange meneguhkan janji mereka dalam pemberkatan yang sakral. Kata-kata doa mengalir seperti mata air, mengikat dua kehidupan dalam satu ikrar: setia dalam suka dan duka, teguh dalam perjalanan yang belum seluruhnya terbaca.

Sejak saat itu, pernikahan bukan hanya peristiwa, melainkan awal dari sebuah ziarah panjang—tentang kesetiaan yang diuji waktu, tentang cinta yang belajar bertahan dalam diam maupun riuh kehidupan.

Bagi Ferdy, keluarga adalah pelabuhan terakhir dari setiap perjalanan. Di sanalah ia kembali menjadi dirinya yang paling utuh—bukan sebagai pelatih, bukan sebagai wasit, bukan pula sebagai pejabat, melainkan sebagai seorang ayah yang menyaksikan kehidupan terus bertumbuh di sekelilingnya.

Dan dari sanalah, ia belajar satu hal yang paling sederhana sekaligus paling penting: bahwa sebesar apa pun jejak yang ditinggalkan, hidup pada akhirnya selalu menemukan maknanya ketika tetap membumi.

Di rumah, kehidupan mengalir dalam harmoni yang sederhana. Sang istri mengelola usaha keluarga, menjadi penopang yang tenang di balik perjalanan panjangnya. Sementara anak-anaknya menapaki jalan masing-masing, membawa nilai yang diwariskan dengan cara mereka sendiri.

Anak sulungnya, Rosario Laurensius Langga da Cunha, kini menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) tahun kedua di Paroki Uwa Palue—menapaki jalan pengabdian yang sunyi namun penuh makna. Putra kedua, William Woda da Cunha, melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Maumere setelah sebelumnya menimba disiplin di SMPS Seminari Santa Maria Bunda Segala Bangsa (BSB). Sementara si bungsu, Adam da Cunha Ferdinandus, juga mengikuti jejak serupa, kini menempuh pendidikan di SMAN Nita setelah lulus dari seminari yang sama.

William da Cunha meraih medali emas kategori poomsae individual putra pada PORPROV NTT 2022 di Kupang. (Foto: Istimewa)

Jejak yang Diteruskan

Ada jejak yang tak pernah benar-benar hilang. Ia tinggal, mengendap, lalu tumbuh kembali—kadang dalam diri orang lain, kadang dalam darah yang sama. Bagi Ferdy, jejak itu kini berdenyut dalam langkah putra keduanya, William Woda da Cunha.

Di atas matras yang dulu menjadi ruang belajarnya, kini William menapak dengan ritme yang hampir serupa—tekun, sabar, dan penuh hasrat untuk melampaui diri sendiri. Dari ajang POPDA hingga kejuaraan Komodo Open Tournament di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat pada Agustus 2025, ia mengukir prestasi: medali emas dan perak menjadi saksi bahwa kerja keras tak pernah berkhianat. Sabuk Merah Strip Hitam Dua (Geup I) yang kini disandangnya bukan sekadar tingkatan, melainkan tanda kesiapan menuju fase yang lebih matang.

Namun perjalanan William tak hanya ditempa di dojang. Disiplin dan jiwa kepemimpinan juga membawanya terpilih sebagai Purna Paskibraka Kabupaten Sikka 2024—sebuah kehormatan yang menegaskan bahwa nilai-nilai yang ia pelajari melampaui batas olahraga.

Bagi Ferdy, menyaksikan semua itu adalah pengalaman yang tak mudah dilukiskan. Ada bangga yang mengalir pelan, bercampur haru yang diam-diam mengetuk ingatan akan masa lalu.

“Melihat anak-anak berlatih seperti saya dulu, rasanya bangga dan haru,” katanya, suaranya seolah membawa gema dari waktu yang telah ia lalui.

Di titik ini, perjalanan terasa seperti lingkaran yang utuh. Apa yang pernah ia tanam, kini bersemi kembali—bukan hanya dalam prestasi, tapi dalam nilai-nilai yang diwariskan tanpa banyak kata. Sebab pada akhirnya, jejak sejati bukanlah tentang seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan tentang siapa yang akan melanjutkan langkah itu setelahnya.

Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha mendampingi taekwondoin pada PORPROV NTT 2022 di Kupang. (Foto: Istimewa)

Tetap Membumi

Setinggi apa pun langkah yang pernah ditempuh, Ferdy memilih untuk tetap menapak di tanah yang sama—tenang, sederhana, dan setia pada kehidupan yang membesarkannya. Di luar dunia Taekwondo yang membentuk namanya, ia adalah seorang ASN yang menutup pengabdian dengan sunyi namun penuh makna.

Sebuah posisi yang menuntut ketekunan dan tanggung jawab, sejalan dengan nilai-nilai yang selama ini ia hidupi di dojang: disiplin, keteladanan, dan kesabaran dalam membina.

Namun jauh sebelum itu, ia pernah menjalani fase hidup yang berbeda. Tahun 1989 hingga 1995, ia bekerja di Hotel Maiwali kini Go Hotel Maumere—sebuah ruang lain yang mengajarkannya tentang kerja keras, pelayanan, dan cara memahami manusia dari beragam latar. Dari sana hingga ke dunia birokrasi, langkahnya tak pernah jauh dari prinsip yang sama: bekerja dengan hati, tanpa banyak riuh.

Gerak yang Tak Pernah Usai

Perjalanan hidup Ferdy mengalir seperti rangkaian poomsae—teratur, berkesinambungan, dan tak pernah benar-benar berhenti. Setiap gerak menyimpan makna, setiap jeda mengandung pelajaran. Dari laut yang pernah ia arungi menuju daratan mimpi yang ia pijak, perjalanan itu menjelma menjadi kisah tentang ketekunan yang tak lekang oleh waktu.

Ia pernah menjadi murid yang belajar dengan penuh keraguan, lalu tumbuh menjadi guru yang menuntun dengan keyakinan. Ia melangkah dari satu fase ke fase lain, menghubungkan masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas panjang. Di tangannya, estafet itu tak sekadar diteruskan, tetapi juga dihidupkan kembali—menyala di dada generasi yang kini ia bina.

Semua bermula dari langkah kecil: perjalanan menyusul almarhum Wio da Cunha, yang tanpa disadari telah membuka jalan panjang bagi hidupnya. Dari sanalah arah itu terbentuk—perlahan, namun pasti—hingga akhirnya menjelma menjadi nyala api Taekwondo di Sikka yang terus ia jaga.

Di ujung cerita ini, tak ada garis akhir yang benar-benar menutup perjalanan. Sebab bagi Ferdy, hidup adalah gerak yang tak pernah usai—selalu menemukan bentuk baru, selalu memberi arti yang lain.


Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha bersama staf saat kunjungan kerja ke SMPN Kojadoi, 2022, ketika masih bertugas di Dinas PKO Kabupaten Sikka. (Foto: Istimewa)

Bahasa Syukur yang Melampaui Kata

“Kamsahamnida Sabeum Nim”—terima kasih Ferdy—sebuah kata sederhana dari negeri asal taekwondo, Korea. Namun di bibir orang-orang terdekat, ia menjelma lebih dalam dari sekadar ungkapan.

Bagi mereka, rasa itu tertuju pada satu nama: Epang Gawang Golo Moat Siang. Sosok yang tak hanya menapaki jalan hidupnya dengan tekun, tapi juga meninggalkan jejak yang membuat banyak hati ikut tegak.

“Kami bangga,” ucap itu mungkin singkat, tapi mengandung perjalanan panjang—tentang kerja keras, tentang ketekunan, dan tentang kesetiaan pada jalan yang dipilih.

Dan di antara gema kata “kamsahamnida” itu, terselip satu makna yang lebih sunyi: terima kasih, karena telah menjadi alasan bagi kebanggaan itu sendiri.

(*) Jurnalis

 

RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap: Ferdinandus Sixtus Siang da Cunha

Tempat/Tanggal Lahir : Lela, 30 Mei 1964

Alamat Rumah : Lela

Istri : Maria Yasintha Dua Gulo (50)

Anak:

Rosario Laurensius Langga da Cunha (24)

Thomas William Woda da Cunha (19)

⁠Adam da Cunha Ferdinandus (16)

Ayah: Stephanus Woda da Cunha Almarhum

Ibu : Marciana Parera

Anak : Sulung dari lima bersaudara

Hobi : membaca, menyanyi, berkebun dan olahraga

 

PENDIDIKAN

 

SDK Lela 1 : Tamat Tahun 1977

SMPK Bunga Fatima Lela: Tamat Tahun 1982

SMAK Frater Ujung Pandang Tamat Tahun 1984

STIA-LAN Makassar Tamat Tahun 2005

 

PEKERJAAN

 

  1. Karyawan Perkebunan Inti Rakyat (PIR) kelapa sawit di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan pada 1984–1985.
  2. Karyawan Hotel Maiwali Maumere 1989 hingga 1995.
  3. Staf Bagian Kepegawaian, Sekretariat Daerah Kabupaten Sikka (1996–2002).
  4. Mahasiswa Tugas Belajar, STIA-LAN RI Makassar (2002–2005).
  5. Staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sikka (2005–2008).
  6. Kepala Subbagian Program, Evaluasi, dan Pelaporan, Kantor Camat Lela (2008–2011).
  7. Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Olahraga, Bidang Pemuda dan Olahraga, Dinas PKO Kabupaten Sikka (2011–2014).
  8. Kepala Seksi Kepemudaan, Bidang Pemuda dan Olahraga, Dinas PKO Kabupaten Sikka (2015–2017).
  9. Kepala Bidang Pembinaan SMP, Dinas PKO Kabupaten Sikka (2022–2024).
  10. Pensiun sebagai ASN, Pemerintah Kabupaten Sikka (1 Juni 2024).

 

 ORGANISASI

 

  1. Ketua Pengkab Taekwondo Indonesia Sikka 2014-2018, 2018-2022 dan 2022-2027
  2. Koordinator Wasit Nasional/Daerah Pengprov Taekwondo Indonesia NTT 2014 Sekarang
  3. Pengurus KONI Sikka Bidang Organisasi 2022-2026
  4. Atlit Taekwondo 1983-1987
  5. Pelatih Taekwondo 1988 Sekarang
  6. Wasit 2013-2026
  7. Penguji Taekwondo 2023-Sekarang

 

PRESTASI

 

  1. Kejurda Taekwondo se-Sulawesi Selatan di Makassar meraih medali perak di kelas fin (1985)

 

 

TINGKATAN SABUK TAEKWONDO

 

1.Sabuk Hitam Taekwondo

2.Dan I, Kukkiwon (2009)

3.Dan II, Kukkiwon (2011)

4.Dan III, Kukkiwon (2013)

5.Dan IV, Kukkiwon (2017)

6.Dan V, Kukkiwon (2021)

 

 

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *