banner 728x250

Grand Cartenz Hotel, Oase Hijau di Jantung Sentani

Manajer Operasional Grand Cartenz Hotel Sentani, Dedi Gobel (kiri), didampingi Staf Ayu Agnes Christiani Kirojan, berada di area Front Office. (Foto: Citra Papua.com/Makawaru da Cunha)
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Makawaru da Cunha

CITRA PAPUA.COM—SENTANI—Pagi belum sepenuhnya meninggalkan embun ketika halaman Grand Cartenz Hotel mulai berdenyut oleh aktivitas. Pepohonan hijau berdiri menaungi kawasan hotel, sementara udara sejuk dari lereng Pegunungan Cycloop mengalir perlahan menyentuh setiap sudut ruang.

banner 325x300

Di kejauhan, Danau Sentani membentang tenang. Pegunungan Cycloop berdiri kokoh menjadi latar alami yang sejak lama menjadi penanda wajah Sentani.

Di tengah dinamika kota yang terus berkembang, Grand Cartenz Hotel menghadirkan ruang dengan suasana berbeda. Bukan sekadar tempat untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang, tapi ruang singgah yang menawarkan ketenangan dan pengalaman merasakan alam Papua.

Begitu memasuki kawasan hotel, suasana perkotaan seolah perlahan tertinggal. Rindangnya pepohonan dan tata ruang bernuansa hijau membuat tamu merasakan atmosfer yang lebih dekat dengan alam.

Di tempat inilah, waktu seperti berjalan lebih lambat.

Ruang Nyaman di Antara Danau dan Pegunungan

Berlokasi di Jalan Sosial Nomor 388, Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Grand Cartenz Hotel mulai beroperasi pada 10 April 2025.

Mengusung konsep garden hotel, hotel ini mencoba menghadirkan perpaduan antara kenyamanan modern dan karakter alam Papua.

Letaknya yang berada di jalur menuju Bandara Sentani menjadikannya mudah dijangkau oleh pelaku perjalanan bisnis, tamu pemerintahan, maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat Kabupaten Jayapura.

Manajer Operasional Grand Cartenz Hotel Sentani, Dedi Gobel, mengatakan sejak awal hotel ini dibangun dengan gagasan menghadirkan tempat menginap yang tak hanya nyaman, tapi juga memberikan pengalaman berbeda bagi tamu.

“Di sekitar hotel terdapat pepohonan hijau yang memberikan udara segar. Suasananya lebih tenang karena tidak berada di tengah keramaian,” ujar Dedi, Jumat (31/7/2026).

Menurut dia, suasana alam menjadi salah satu kekuatan utama hotel tersebut.

“Kami ingin setiap tamu merasa nyaman sejak pertama datang hingga kembali melanjutkan perjalanan,” katanya.

Ketika Sebuah Hotel Menjadi Ruang Pertemuan

Grand Cartenz Hotel tak hanya menawarkan kamar untuk beristirahat.

Hotel enam lantai ini memiliki 45 kamar yang terbagi dalam tiga kategori, yakni Cartenz Suite, Executive Suite, serta Deluxe Double dan Deluxe Twin. Setiap tipe dirancang untuk memenuhi kebutuhan tamu dengan karakter perjalanan yang berbeda.

Cartenz Suite menjadi tipe tertinggi dengan ruang tamu pribadi, dua kamar mandi, dan bathtub. Executive Suite mengusung konsep connecting room, memberikan keleluasaan bagi keluarga maupun tamu yang datang bersama rombongan kecil. Sementara kamar Deluxe menjadi pilihan utama bagi pelaku perjalanan bisnis dan wisatawan yang menginginkan kenyamanan dalam suasana yang lebih praktis.

Restoran utama hotel berada di lantai yang sama. Seusai rapat atau pelatihan, peserta dapat langsung menikmati hidangan tanpa harus berpindah lokasi.

Sementara itu, suasana yang berbeda hadir di lantai enam.

Di area rooftop, tamu tak hanya dapat menikmati makanan dan minuman, tapi juga memandang bentang alam Sentani dari ketinggian. Ruang pertemuan di lantai ini sering dimanfaatkan untuk rapat internal maupun diskusi yang menginginkan suasana lebih santai.

Area parkir yang luas juga menjadi nilai tambah. Hotel mampu menampung sekitar 10 hingga 15 kendaraan roda empat, sehingga memberi keleluasaan bagi tamu maupun penyelenggara kegiatan.

Tak hanya melayani kebutuhan menginap, Grand Cartenz Hotel juga menyediakan Obhe Meeting Room di lantai dua. Ruangan ini mampu menampung hingga 150 peserta dalam format teater, sekitar 70 peserta dalam format kelas, serta sekitar 40 peserta dengan tata letak U-shape. Fasilitas tersebut menjadikan hotel sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan rapat, pelatihan, seminar, maupun kegiatan pemerintahan di Kabupaten Jayapura.

Bagi Dominggus Marei, seorang dosen yang pernah menggunakan fasilitas tersebut, kenyamanan sebuah ruang pertemuan bukan hanya ditentukan oleh fasilitas, tapi juga suasana yang mendukung.

Ia mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan.

Menurut Dominggus, fasilitas pendukung seperti perangkat presentasi, kursi yang fleksibel, ruangan berpendingin udara, serta sajian kopi dan teh membuat kegiatan berjalan lebih nyaman.

“Saya senang suasananya nyaman dan damai, private. Saya akan kembali lagi di saat mendatang,” ujarnya.

Menatap Sentani dari Ketinggian

Saat sore mulai turun, suasana berbeda hadir di lantai enam.

Dari rooftop hotel, Sentani terlihat dalam wajahnya yang lain.

Danau Sentani memantulkan cahaya matahari yang perlahan berubah keemasan. Pegunungan Cycloop berdiri menjadi penjaga alami kawasan itu.

Ketika malam datang, cahaya lampu Kota Sentani mulai bermunculan.

Pemandangan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi tamu yang ingin menikmati waktu tanpa terburu-buru.

Namun bagi manajemen hotel, pemandangan indah hanyalah salah satu bagian dari pengalaman.

Bagian terpenting tetap manusia yang memberikan pelayanan.

Membangun Peluang bagi Putra-Putri Papua

Saat ini operasional hotel didukung 24 karyawan dan karyawati yang sebagian besar telah memiliki dasar keahlian di bidang perhotelan. Manajemen juga menerima 16 siswa magang dari SMK Negeri 1 Sentani dan SMKS YPKP Teknologi Informasi dan Komunikasi Sentani. Kehadiran mereka bukan sekadar membantu operasional, melainkan menjadi bagian dari proses belajar mengenal dunia kerja secara langsung.

Di meja resepsionis, senyum karyawan menyambut setiap tamu yang datang. Di restoran, staf sigap memastikan setiap hidangan tersaji tepat waktu. Di balik layar, bagian tata graha bekerja menjaga setiap kamar tetap bersih dan nyaman. Keseluruhan pelayanan itu dibangun melalui kerja sama yang melibatkan putra-putri Papua bersama tenaga profesional yang telah lebih dahulu berpengalaman di dunia perhotelan.

Bagi Dedi Gobel, keberadaan Grand Cartenz Hotel harus memberi manfaat yang lebih luas daripada sekadar menjalankan bisnis.

“Sejak awal kami memang memprioritaskan putra-putri daerah untuk bisa bersaing di industri perhotelan. Kami tak ingin semua tenaga kerja berasal dari luar Papua. Orang Asli Papua juga harus memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mampu bersaing dengan siapa pun. Jangan sampai mereka tertinggal dalam dunia kerja, khususnya di bidang jasa dan perhotelan,” imbuhnya.

Di Balik Senyum, Ada Cerita Perjalanan

Di sebuah hotel, pelayanan sering kali terlihat sederhana. Senyuman saat menyambut tamu. Sapaan ramah di meja depan. Hidangan yang tersaji tepat waktu. Kamar yang bersih dan nyaman. Namun di balik semua itu, ada proses belajar dan perjalanan manusia.

Bagi mereka, hotel bukan hanya tempat bekerja. Hotel adalah ruang belajar tentang disiplin, komunikasi, tanggung jawab, dan profesionalitas.

Bella dan Langkah Pertamanya di Dunia Hotel

Arlika Sibellawati Vicka Kogoya atau Bella pernah mengenal dunia pelayanan melalui restoran. Sebelum bergabung dengan Grand Cartenz Hotel Sentani, ia bekerja di sebuah restoran Chinese di Kuala Kencana, Timika. Namun dunia hotel membawa pengalaman baru.

Di sini, pelayanan tidak hanya tentang makanan dan minuman. Ada standar yang harus dipahami. Ada komunikasi yang harus dijaga.

Ada sikap profesional yang harus terus dibangun.

“Ini pengalaman pertama saya bekerja di hotel. Pengalaman sebelumnya di restoran menjadi bekal untuk melayani tamu,” ujar Bella.

Sebagai seorang waitress, Bella memahami bahwa pelayanan terbaik tak selalu tentang hal besar.

Kadang, perhatian kecil seperti senyum, kesabaran, dan kesediaan mendengarkan kebutuhan tamu menjadi bagian yang paling diingat.

Fera dan Perjalanan Sejak Awal Berdiri

Berbeda dengan Bella, Fera Anggel Pangkatana telah menjadi bagian dari Grand Cartenz Hotel sejak masa persiapan sebelum hotel beroperasi.

Ia melihat bagaimana sebuah hotel dibangun dari awal. Mulai dari menyiapkan fasilitas, membangun tim kerja, hingga memahami standar pelayanan yang harus diterapkan.

Bagi Fera, tantangan terbesar bekerja di hotel adalah menghadapi manusia dengan karakter yang berbeda. Setiap tamu membawa kebutuhan dan harapan masing-masing. “Setiap tamu berbeda. Kami harus siap menerima keluhan dan memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.

Bagi Fera, keluhan bukan ancaman. Keluhan adalah cara untuk belajar memperbaiki diri.

Sebuah hotel bukan hanya tentang fasilitas, tapi kesan yang tertinggal. Grand Cartenz Hotel Sentani mengajak setiap tamu datang, menikmati kenyamanan, dan membawa pulang cerita perjalanan yang berkesan. **

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *